Indonesia Masuk Daftar Pemberi Stimulus Corona Terbesar di Asia

Indonesia Masuk Daftar Pemberi Stimulus Corona Terbesar di Asia
UANG | 9 April 2020 12:47 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Pemerintah menggelontorkan stimulus sebesar Rp405,1 triliun untuk menekan dampak negatif penyebaran Virus Corona di Indonesia. Dengan pemberian insentif tersebut maka Indonesia masuk sebagai salah satu negara pemberi stimulus penanggulangan Virus Corona terbesar di Asia.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah Redjalam, mengatakan total tambahan anggaran yang disalurkan mencapai Rp405 triliun atau setara 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tambahan anggaran ini ditujukan untuk bidang kesehatan, perlindungan sosial, insentif perpajakan dan pemulihan ekonomi nasional.

"Dengan tambahan ini Indonesia menjadi salah satu negara pemberi insentif terbesar di Asia. Jumlah insentif fiskal pemerintah lebih besar dibandingkan beberapa negara seperti China sebesar 1,2 persen terhadap PDB, Korea Selatan 0,8 persen, ataupun India 0,5 persen, namun angka ini lebih kecil dibandingkan Thailand 3 persen ataupun Malaysia 17 persen," ujarnya kepada media di Jakarta, Kamis (9/4).

Sayangnya, tambahan belanja Indonesia ini diproyeksikan tidak bisa diimbangi oleh kenaikan penerimaan negara pada akhir tahun nanti. Pertumbuhan penerimaan negara akan jauh menurun dibandingkan tahun lalu, yang disebabkan oleh 2 faktor utama.

"Dari luar negeri, harga sejumlah komoditas mengalami penurunan imbas dari melambatnya permintaan global termasuk harga minyak mentah yang anjlok di bawah USD 25. Selain karena melemahnya permintaan global, ini juga dipicu oleh gagalnya kesepakatan negara-negara produsen khususnya Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak," jelasnya.

Dari dalam negeri, terjadi pelemahan permintaan domestik yang berdampak pada melambatnya aktivitas pada sektor-sektor penyumbang penerimaan negara. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sudah menunjukkan kontraksi sejak pertengahan tahun lalu, pada Maret 2020 bahkan anjlok lebih dalam hingga ke level 45.

Melambatnya sektor manufaktur akan berdampak pada penerimaan perpajakan, karena sektor ini menyumbang sekitar 30 persen dari total penerimaan pajak. Kombinasi kedua faktor ini diprediksikan akan menekan penerimaan negara sampai dengan akhir tahun nanti.

"CORE memprediksikan penerimaan Perpajakan akan berada di kisaran Rp1.452 sampai Rp1.514 triliun. Jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp1.462 triliun Rupiah," jelasnya.

Kondisi ini akan mendorong pelebaran defisit anggaran yang diproyeksikan akan mencapai Rp852 triliun atau setara 5,07 persen terhadap PDB. Indonesia tidak sendiri, negara lain juga diprediksikan akan mengalami kondisi serupa.

"Negara tetangga Malaysia misalnya dengan tambahan insentif sebesar 250 miliar Ringgit Malaysia, defisit anggaran Malaysia akan berada dikisaran 4,5 persen terhadap PDB lebih tinggi dibandingkan defisit pada tahun lalu yang mencapai 3,4 persen. Bahkan Perancis berencana meningkatkan defisit anggarannya hingga 7 persen," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Total Pemerintah Beri Rp563,3 Triliun Stimulus Hingga Saat ini

beri rp5633 triliun stimulus hingga saat ini rev2

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengalokasikan penambahan belanja dan pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp405,1 triliun. Anggaran ini sebagai stimulus untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Alokasi dana tersebut diterbitkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, yang terlahir usai Jokowi berdiskusi dengan Gubernur Bank Indonesia, Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Sebelumnya, pemerintah juga sudah mengucurkan anggaran senilai Rp158,2 triliun untuk dua paket stimulus kebijakan ekonomi di tengah terjangan wabah Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah, menyatakan dana Rp405,1 triliun merupakan paket yang terpisah dengan kebijakan stimulus yang dikeluarkan sebelumnya. "Iya, beda paket," ujar Halim kepada Liputan6.com, Selasa (31/3).

Dengan begitu, dia mengkonfirmasi bahwa pemerintah secara total menyalurkan dana hingga sekitar Rp563,3 triliun untuk memerangi pandemik virus Corona.

Pengeluaran tersebut diawali dengan anggaran sebesar Rp158,2 triliun. Ini terdiri dari stimulus pertama sebesar Rp10,3 triliun, stimulus kedua Rp22,9 triliun, dan pelebaran defisit 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp125 triliun.

(mdk/bim)

Baca juga:
Ada PSBB, 166 SPBU Pertamina di Jabodetabek Hanya Beroperasi Sampai Jam 11 Malam
Setuju dengan SBY, Politikus PDIP Minta Pemerintah Transparan Soal Perppu Corona
Lewat Perppu 1/2020, Pembebasan Bea Impor Harus Seizin Menteri Sri Mulyani
Ekuador Siapkan Pemakaman Baru untuk Korban Covid-19
507 Karyawan Kena PHK Imbas Corona di Solo akan Ikut Program Kartu Pra Kerja
4 Risiko dari Anggaran Stimulus Rp 405,1 Triliun untuk Redam Dampak Corona
Polri Temukan 18 Kasus Penimbunan APD serta Hand Sanitizer

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami