Inflasi Hingga Neraca Perdagangan Disebut Masih Terjaga Meski Ada Corona

Inflasi Hingga Neraca Perdagangan Disebut Masih Terjaga Meski Ada Corona
UANG | 6 April 2020 15:45 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Perekonomian global tengah merosot akibat pandemi virus corona, tak terkecuali Indonesia. Meski demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, masih ada sejumlah indikator ekonomi dan keuangan lain masih relatif terjaga selama virus corona.

"Sejumlah indikator ekonomi dan keuangan lain masih relatif terjaga. Inflasi pada Maret 2020 tercatat rendah, yaitu 0,10 persen secara bulanan atau 2,96 persen secara tahunan," kata Perry dalam rapat virtual dengan komisi XI DPR, Senin (6/4).

Kemudian, neraca perdagangan dalam bulan Februari 2020 juga mencatat surplus USD 2,3 miliar, didorong ekspor batu bara, CPO, dan beberapa produk manufaktur.

"Kondisi perbankan juga relatif baik pada Februari 2020, dengan rasio kecukupan modal (CAR) sekitar 22,4 persen dan kondisi likuiditas yang lebih dari cukup dengan rasio Alat Likuid per Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi sekitar 22,8 persen," lanjut dia.

Sementara itu, menurut Perry, fungsi intermediasi masih belum berjalan kuat, tercermin dari rendahnya pertumbuhan DPK yang sekitar 7,7 persen maupun penyaluran kredit yang sebesar 5,9 persen, sejalan dengan melambatnya kegiatan ekonomi.

Kemudian, sistem pembayaran baik tunai maupun non-tunai masih berjalan lancar. "Pertumbuhan Uang Elektronik (UE) cukup tinggi, menunjukkan preferensi masyarakat ke ekonomi dan keuangan digital. Pemenuhan kebutuhan uang tunai masyarakat juga berjalan lancar," kata Perry.

1 dari 1 halaman

Skenario Jika Defisit Melebar

Pemerintah berencana akan melakukan perubahan dalam defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Dari yang tadinya hanya mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 5,07 persen, dengan tujuan untuk memerangi kasus corona di Indonesia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jika terjadi pelebaran defisit maka secara otomatis akan mengubah postur APBN secara keseluruhan. Di mana outlook pendapatan negara akan terkoreksi menjadi Rp1.760,9 triliun, atau lebih rendah jika dibandingkan posisi APBN 2020 yang sebesar Rp2.233,2 triliun.

Sementara posisi belanja negara justru mengalami peningkatan. Dari posisi APBN sebesar Rp2.540,4 triliun, outlook terhadap belanja negara bisa menjadi Rp2.613,8 triliun.

"Dengan posisi tersebut maka outlook defisit bisa mencapai Rp853,0 triliun (5,07 persen dari PDB)," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (6/4).

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
OJK: Keringanan Pembayaran Cicilan Tak Otomatis Diberikan Leasing
Doni Monardo: 2 Hari Terakhir Saya Agak Tenang, Tak Ada RS Minta APD
Masih Bandel Keluyuran saat Penerapan PSBB, Siap-Siap Diciduk Aparat
9 Hotel Milik Pegadaian Siap Tampung Tim Medis Virus Corona
15 Kata-Kata Motivasi, Cocok Dikirim Untuk Penyemangat di Tengah Pandemi Corona
Kemenag Terbitkan Panduan Ibadah Ramadan dan Lebaran di Tengah Wabah Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5