Ini Beda Program Kartu Prakerja dengan Bantuan Pemerintah Lainnya

Ini Beda Program Kartu Prakerja dengan Bantuan Pemerintah Lainnya
Jokowi Kartu Prakerja. ©2019 Merdeka.com
EKONOMI | 13 Juni 2021 18:30 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Program Kartu Prakerja tahun ini sudah memasuki gelombang ke-17. Semula, program ini dibuat untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. Namun, akibat pandemi Covid-19, terjadi perluasan pemanfaatan program yakni ditujukan juga bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi virus corona.

Meski begitu, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari menilai, program Kartu Prakerja ini memiliki tiga perbedaan khusus dibandingkan program-program bantuan sosial dari pemerintah.

"Setidaknya tiga hal menjadi pembeda Program Kartu Prakerja dibandingkan program pelatihan Pemerintah yang sudah ada," kata Denni dalam keterangan persnya, Jakarta, Minggu (13/6).

Pertama, konten pelatihan yang beragam, kekinian, praktis, dan relevan dengan dunia kerja. Jenis-jenis pelatihan yang disediakan ada yang pendek maupun panjang. Selain itu ada yang berupa webinar maupun self-paced video.

Kedua, adanya kebebasan memilih bagi peserta pelatihan. Dalam program ini terdapat lebih dari 1.500 pelatihan di ekosistem Kartu Prakerja. Berbagai pelatihan tersebut dapat dipilih dan dikombinasikan oleh para penerima Kartu Prakerja sesuai minat dan bakat masing-masing.

Ketiga, kompetisi antar Lembaga Pelatihan menghadirkan hasil yang positif dalam harga, kualitas dan layanan. Saat ini Denni menyebut ada 179 Lembaga Pelatihan dalam ekosistem Prakerja. Sehingga, kata Denni tak heran, dengan anggaran yang hanya Rp 1 juta untuk tiap penerima Kartu Prakerja, peserta bisa membelanjakan hingga 18 jenis pelatihan.

"Hal ini dikarenakan dana pelatihan murni dipakai untuk kursus daring, bukan untuk komponen lain seperti seragam, sepatu, tempat tinggal, makan, transportasi dan lain-lain," tutur Denni.

Pelatihan ini juga menurutnya Denni tetap efektif. Sebab peserta menjadi penentu utama keberhasilan dalam belajar lebih pada motivasi, niat dan konsentrasi yang bersangkutan. Cara ini dianggap lebih efektif ketimbang pelatihan yang dilakukan secara fisik.

"Mereka yang hadir secara fisik di kelas belum tentu belajar, karena bisa saja melamun, tidak konsentrasi, tidak mengulang atau mempraktikkan materi, atau tak memiliki komitmen penuh pada kelas yang diikutinya," kata dia.

Baca Selanjutnya: Gelar Pelatihan Daring...

Halaman

(mdk/idr)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami