Ini Strategi Menteri Sri Mulyani Agar Pertumbuhan 2020 Tidak 0 Persen

Ini Strategi Menteri Sri Mulyani Agar Pertumbuhan 2020 Tidak 0 Persen
UANG | 3 Juni 2020 20:52 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Pemerintah akan berupaya agar pertumbuhan pada akhir 2020 bisa di atas nol persen. Salah satunya dengan memperkuat kinerja ekonomi melalui pemberian stimulus fiskal.

"Melalui stimulus, kita akan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas nol persen, mendekati satu persen," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, seperti dikutip dari Antara dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Rabu (3/6).

Menteri Sri Mulyani mengakui pertumbuhan ekonomi telah terkontraksi karena aktivitas ekonomi di berbagai sektor mulai terdampak oleh COVID-19.

Situasi itu yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2020 dapat mengalami perlambatan lebih dalam terutama setelah adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dengan kondisi ini, menurut dia, perekonomian Indonesia dapat masuk dalam skenario berat dari rentang proyeksi pertumbuhan 2,3 persen hingga -0,4 persen.

Meski demikian, Menteri Sri Mulyani menyakini, melalui pemberian stimulus untuk mengatasi pandemi COVID-19 hingga Rp677,2 triliun, perekonomian masih bisa tumbuh di zona positif. "Triwulan dua akan turun akibat adanya PSBB, tapi dengan adanya stimulus, maka triwulan tiga-empat, bisa mengejar kembali. Jadi kita berharap ekonomi bisa masuk zona positif," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Pemerintah Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Akan Terkoreksi Paling Dalam

pertumbuhan ekonomi kuartal ii akan terkoreksi paling dalam

Kementerian Koordinator Perekonomian memprediksi pertumbuhan perekonomian Indonesia di kuartal II 2020 jatuh paling dalam. Imbasnya, jumlah pengangguran diperkirakan terus meningkat hingga 5,23 juta dan kemiskinan bertambah 4,86 juta.

"Kalau di kuartal I masih di 2,97 persen, kita memperkirakan kuartal II ini akan jatuh sekali kemungkinan minus di bawah growth, artinya siklus kuartal II jatuh paling dalam," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian (Sesmenko), Susiwijono Moegiarso, dalam suatu diskusi online Pactoc Connect, Rabu (3/6).

Susiwijono menyebut penurunan tersebut dipicu akibat lini ekonomi mengalami penurunan signifikan. Selain itu, melambatnya permintaan ekonomi dunia terganggunya rantai pasok penawaran global, serta rendahnya harga komoditas kompak menyebabkan anjloknya volume perdagangan dunia,

"Berbagai sentimen di publik, konsumen, pebisnis, market, dan semuanya semakin mengalami tekanan," ujarnya.

Ditambah lagi banyak pekerja yang terkena PHK. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, tenaga kerja yang terdampak covid-19 sekitar 3,05 juta orang per 2 Juni 2020, dan memperkirakan tambahan pengangguran bisa mencapai 5,23 juta orang.

"Bappenas memperkirakan tambahan pengangguran 4,2 juta, dan angka kemiskinan dan pengangguran akan terus meningkat, bahkan dalam skenario sangat berat diperkirakan kemiskinan bertambah 4,86 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta," ujarnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Pemerintah Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Akan Terkoreksi Paling Dalam
Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional Naik Menjadi Rp677,2 Triliun
Jokowi Minta Program Pemulihan Ekonomi Utamakan Industri Padat Karya
Jokowi Minta Ada Konsep Berbagi Beban dalam Pemulihan Ekonomi Nasional
Bank Dunia Kritik Pemberian Insentif Pajak RI di Tengah Pandemi
Menko Luhut: Dampak Virus Corona, GDP Negara Baru Bisa Pulih Dalam 5 Tahun
Kemenkeu Sebut Kerugian Akibat Corona Terlihat Pada Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami