Investor Asal AS Disebut akan Keluar dari China, Ini Alasannya

Investor Asal AS Disebut akan Keluar dari China, Ini Alasannya
UANG | 24 Oktober 2020 14:30 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Perusahaan AS berencana untuk hengkang keluar dari China, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan presiden 3 November nanti antara Trump dan Biden. Ketua PwC AS, Tim Ryan, berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan, perang dagang antara AS-China dan pandemi Covid-19 memberikan pelajaran bagi korporasi AS agar tak menjadikan satu negara sebagai hub produksi.

"Covid benar-benar menyoroti pada risiko rantai pasokan, dan salah satu hal yang kami lihat adalah penurunan rantai pasokan telah meningkat signifikan hingga ke manajemen, seperti yang kami lihat sekarang konsentrasi dalam rantai pasokan kami yang dulu mungkin tidak dibuktikan sebelumnya," kata Ryan dilansir dari CNBC.

Menurut Ryan, para investor AS yang keluar dari negara ekonomi terbesar kedua dunia itu, kemungkinan besar akan membidik negara-negara di Asia Tenggara, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, perang dagang Trump dengan China mengakibatkan masing-masing pihak menempatkan tarif miliaran dolar pada barang pihak lain dan memotivasi beberapa perusahaan untuk mulai merelokasi rantai pasokan mereka di tempat lain. Memang, Trump telah berulang kali meminta perusahaan AS untuk melakukan hal itu.

Ryan mengatakan, dalam survei PwC menemukan sedikit lebih banyak eksekutif yang khawatir tentang ketegangan perdagangan dengan China di bawah Trump, dibandingkan dengan di bawah Biden. Namun, hampir 30 persen responden mengatakan mereka "sangat setuju" bahwa pembatasan perdagangan di China akan diintensifkan tidak peduli siapa yang menang.

"Saya melihat China-AS. hubungan masih sangat penting. Ini pasar utama, jadi kami melihat investasi di sana. Namun secara relatif, kami melihat perusahaan AS berencana untuk menyebarkannya lebih banyak, dan itu adalah tren yang sedang berlangsung selama beberapa tahun terakhir yang kami perkirakan akan terus berlanjut."

Reporter Magang : Brigitta Belia (mdk/azz)

Baca juga:
Balas Dendam ke AS, China Keluarkan Aturan Batasi Aktivitas Ekspor
Rupiah Melemah ke Rp 14.853 per USD Seiring Memanasnya Hubungan AS-China
Gelombang Kedua Perang Dagang AS-China Dinilai Tak Berpengaruh Signifikan ke RI
Luhut Ingin ASEAN Menjembatani Hubungan AS dan China
Perusahaan Pembuat iPhone Minat Buka Pabrik Baru di Luar China, Akankah ke Indonesia?
Ini Langkah Antisipasi Pemerintah Hadapi Babak Baru Perang Dagang AS-China

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami