J Resources Fokus Kembangkan Tambang Emas Doup di 2019 Senilai Rp1,93 triliun

UANG | 17 Juni 2019 16:22 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Perusahaan pertambangan emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk. tengah fokus menggarap pembangunan tambang emas di Doup, Sulawesi Utara. Nilai investasi yang bakal dikucurkan perusahaan untuk proyek tersebut mencapai USD 135 juta atau Rp1,93 triliun.

Direktur J Resources Asia Pasifik, Willian Surnata mengatakan terkait biaya pembangunan pihaknya telah mengantongi fasilitas pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk.

Diketahui, PT J Resources telah melakukan Perjanjian Pinjaman Sindikasi sebesar USD 231,98 juta dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Pinjaman bakal membangun proyek Doup sekaligus melakukan refinancing pinjaman yang dimiliki sehingga memperkuat kondisi finansialnya.

"Sudah dibiayai Bank Negara Indonesia untuk pembangunan pabrik Doup," kata dia saat ditemui, di Jakarta, Senin (17/6).

Willian pun menyampaikan proses pembangunan ditargetkan rampung pada akhir 2020. Tambang Doup diprediksi sudah mulai berproduksi pada 2021. "Tahun depan (2020) akhir mestinya sudah jadi. 2021 produksi," jelas dia.

Sementara untuk kapasitas produksi, pihaknya memperkirakan kapasitas produksi tambang Doup bisa mencapai hingga 150.000 oz per tahun. "Kapasitas 100 ribu sampai 150 ribu oz emas per tahun," ujarnya.

Sementara itu, Direktur J Resources Asia, Pasifik Edi Permadi pun menjelaskan bahwa sebagian besar belanja modal perusahaan pada tahun ini memang untuk pembangunan tambang di Doup. "Capex untuk Doup keseluruhan yang paling besar untuk Doup itu sendiri," tandasnya.

Selain itu, perusahaan masih berencana menjalankan skema pendanaan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Perusahaan dengan kode emiten PSAB tersebut kini tengah melakukan berbagai persiapan untuk sebelum melakukan rights issue.

Direktur J Resources Asia Pasifik Willian Surnata mengatakan tujuan rights issue yakni untuk meningkatkan saham free float. Pihaknya telah mengantongi restu pemegang saham lewat RUPS pada Februari lalu untuk melakukan aksi korporasi tersebut.

"Februari 2019, itu kita ini mau naikkan floating saham kita di publik yang floating ya, itu 7,5 persen. Walaupun bisnisnya bagus, tapi nggak liquid itu lho. Kapan sih, kita RUPS dulu udah dapat izin," jelas dia saat ditemui, di Jakarta, Senin (17/6).

Saat ini, pihaknya sedang melakukan persiapan sebelum melakukan rights issue. Umumnya persiapan yang dilakukan terkait dengan langkah bisnis perusahaan yang dapat meningkatkan kepercayaan calon investor.

"Pertama kita lakukan dulu sindikasi bank. Jadi orang tahu pabriknya akan bisa dibangun," ujar dia.

Selanjutnya, perusahaan menerbitkan obligasi melalui Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I J Resources Asia Pasifik Tahun 2019. "Kita lakukan ini (penerbitan obligasi) sehingga nanti kita lakukan itu antusiasnya bagus. Yang penting udah dapat izin," imbuhnya.

Meskipun demikian, dia belum dapat menyampaikan kapan waktu tepatnya rights issue bakal dilakukan. "Kita harus lihat semua kondisi market. Right issue itu kan duitnya masuk perusahaan kan cash flow lebih bagus. Tapi kita ingin floating lebih tinggi, lebih liquid," ungkap dia.

"(Harga?) Nanti ada aturan OJK harganya harus berapa itu ada aturan mainnya. Harganya belum tahu," tandasnya.

Baca juga:
Akses Masuk Bandara Samarinda Terganggu Air dan Lumpur dari Tambang Ilegal
Kronologi Meninggalnya Bocah SD di Kolam Eks Tambang Sekaligus jadi Korban ke-34
Bocah SD Tewas Usai Tenggelam di Kolam Bekas Tambang di Kaltim, Total Korban jadi 34
Menengok Tempat Ibadah Freeport di Kedalaman 1.700 Meter dari Permukaan Bumi
Kantor Menteri Jonan Disegel Aktivis Lingkungan
PT Golden Energi Target Penjualan dan Produksi Batubara Naik 30 Persen di 2019

(mdk/azz)