Jadi Penyerap Kapas AS Terbesar, Pengusaha Tekstil RI Minta Kemudahan Dagang

Jadi Penyerap Kapas AS Terbesar, Pengusaha Tekstil RI Minta Kemudahan Dagang
UANG | 26 Februari 2020 11:48 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Amerika Serikat (AS) mengeluarkan Indonesia dan sejumlah negara lainnya dari daftar negara berkembang. Di mata AS, Indonesia, sudah dianggap sebagai negara maju.

Hubungan Indonesia-Amerika di bidang tekstil diprediksi bisa semakin erat. Apalagi menyusul kebijakan ekspor kapas di China dan India, serta merebaknya virus Corona.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Liliek Setiawan, berharap ada perlakuan khusus dari Amerika Serikat di bidang tekstil meski status Indonesia sebagai negara berkembang telah dicabut.

"Delegasi kami dari Asosiasi bersama CCI (Cotton Council International) sudah bertemu dengan stakeholder di AS. Mulai dari asosiasi petani hingga duta besar," ujar Liliek di sela seminar The Economics of The Mills oleh Rieter dan Recent Discoveries about the Quality of US Cotton oleh Indonesia Cotton Council International (CCI) di Solo, Selasa (25/2).

Liliek menyebut, dalam pertemuan itu, Indonesia menanyakan apakah ada perlakuan khusus atau kemudahan jika menjual produk dengan banderol US cotton. Di mana, logo US Cotton bisa digunakan jika pada produk tekstil Indonesia 51 persen memakai bahan baku kapas Amerika. Harapannya dapat menaikkan harga jual.

Secara nasional, serapan kapas dari Amerika sekitar USD 8 miliar untuk bahan baku secara keseluruhan. "Jawa Tengah ini diproyeksikan menjadi sentra industri pertekstilan baru. Sejumlah perusahaan, terutama perusahaan asing tengah membidik wilayah Kendal sembari menunggu apakah Omnibus Law dapat lolos. Foreign direct investment atau perusahaan asing telah indent di Kendal Industrial Park," katanya.

Baca Selanjutnya: AS Penghasil Kapas Terbesar...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami