Jadi Zona Merah Pandemi Corona, Jakarta Tetap Jadi Prioritas Distribusi Pangan

Jadi Zona Merah Pandemi Corona, Jakarta Tetap Jadi Prioritas Distribusi Pangan
UANG | 1 April 2020 13:45 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, pihaknya terus melakukan pantauan mengenai distribusi pangan di seluruh wilayah di Indonesia, di tengah penyebaran virus corona.

"Semua kita prioritaskan kita amati setiap provinsi itu sebabnya saya menggelar video conference per minggu dengan para Kepala dinas provinsi, melaporkan bagaimana kondisinya dan distribusinya, termasuk Jabodetabek," kata Agung dalam keterangan daringnya, Rabu (1/4).

Dia menjelaskan, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) termasuk ke dalam zona merah penyebaran pandemi virus corona. Oleh karena itu, pihaknya lebih memperhatikan aktivitas distribusi bahan pangan di wilayah tersebut.

"DKI saya katakan daerah yang tidak berproduksi pangannya, dia hanya mengandalkan daerah penyangga, penyangganya itu bisa berasal dari Bekasi, Banten, dan sebagainya. Jalur distribusinya yang kita cermati apakah terganggu atau tidak," imbuhnya.

Maka dari itu, Kementan bekerja sama dengan bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) pangan dan Kementerian Perdagangan untuk memperlancar distribusi bahan pangan di tengah pandei corona. Selain itu, Kementan juga bekerja sama dengan beberapa distributor, para produsen, termasuk gabungan kelompok tani untuk membuka toko tani.

"Itu yang kita upayakan, termasuk yang kita buka sekarang kita punya yang namanya pasar tani atau toko tani, kita buka di setiap provinsi. Ini untuk memudahkan mereka memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar," ujarnya.

"Misalnya untuk gula kita bekerja sama dengan PT RNI, untuk beras kita bekerja sama dengan persatuan penggilingan padi, untuk bawang merah dan cabe merah kita bekerjasama dengan gabungan atau produsen-produsen tani bawang dan cabe, yang intinya mereka memberikan informasi produksi yang mereka punya," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Dengan adanya koordinasi dan kesepakatan dengan berbagai pihak terkait, hal itu akan mendukung dan melancarkan proses produki dan distribusi.

"Pasti semua orang tahu dampak corona terhadap pangan pasti ada, tapi dengan kesepakatan tersebut kita mencoba meminimalisir dampak dari Corona ini pada ketersediaan pangan, jadi produksinya yang kita tetap jaga, distribusinya pun tetap kita jaga," kata Agung.

Jika produksi mencukupi dan distribusi lancar, maka harga pangan bisa terkendali. Misalnya bawang merah produksinya cukup, tapi tidak didistribusikan dengan baik maka akan ada kelangkaan di daerah sasaran.

"Oleh karena itu ketersediaan tercakup produksi dan distribusi, dengan demikian otomatis harga akan terkendali," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Kementan Perkirakan Bawang Putih dan Gula Impor Masuk RI Minggu Depan
Silang Pendapat Kementan dan Kemendag Dinilai Hambat Proses Impor Bawang
Stabilkan Harga, Kementan Tetap Berlakukan Rekomendasi Impor Bawang Putih dan Bombai
Gelar Operasi Pasar, Kementan Jual Gula Rp 12.500 dan Beras Rp 8.500 per Kg
Mentan Jamin Tak Ada Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Mentan Syahrul Sebut Harga Gula dan Bawang Bombai Mahal Karena Panic Buying

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami