Jokowi Berulang Kali Singgung Subsidi Bengkak, Pemerintah Beri Kode Naikkan Harga BBM

Jokowi Berulang Kali Singgung Subsidi Bengkak, Pemerintah Beri Kode Naikkan Harga BBM
SPBU. ©2012 Merdeka.com
EKONOMI | 15 Agustus 2022 16:48 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo menaruh perhatian serius pada lonjakan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) imbas kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina. Tercatat, nilai subsidi BBM mengalami pembengkakan dari Rp152,2 triliun menjadi Rp 502,4 triliun di 2022.

Berkaca pada kondisi tersebut, Presiden Jokowi menyebut tidak ada satupun negara di dunia ini yang mampu menanggung beban subsidi energi bagi rakyatnya. Mengingat, nilai anggaran subsidi yang digelontorkan pemerintah tersebut telah melebihi biaya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur yang diproyeksikan mencapai Rp466 triliun.

"(Anggaran subsidi BBM) bisa dipakai untuk membangun Ibu Kota (IKN) karena angkanya sudah Rp 502 triliun. Sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini. Kalau kita tidak ngerti angka, kita tidak bisa merasakan betapa sangat beratnya persoalan saat ini," kata Presiden Jokowi dalam acara Rakernas PDI Perjuangan di Lenteng Agung.

Dalam kesempatan lainnya, Presiden Jokowi juga kembali menyinggung besarnya nilai subsidi BBM yang harus ditanggung oleh pemerintah. Hal ini karena diakibatkan lonjakan harga minyak mentah mencapai USD 110 hingga USD 120 per barel akibat perang Rusia dan Ukraina. Padahal, sebelum pandemi Covid-19 harga minyak mentah dunia berkisar USD 60 per barel.

"Hati-hati mengenai perang Ukraina, karena ini menyangkut pangan dan energi. Pangan, minyak, dan gas yang akan mempengaruhi semua negara di dunia," kata Jokowi dalam acara Hari Keluarga Nasional di Medan Sumatera Utara.

2 dari 4 halaman

Presiden Mulai Khawatir

Presiden Jokowi pun dibuat khawatir atas kemampuan APBN dalam menanggung beban subsidi BBM jika harga minyak mentah dunia terus melambung. Menyusul, status Indonesia sebagai negara importir komoditas minyak mentah.

"Kita itu masih impor separuh dari kebutuhan kita, 1,5 juta barrel minyak dari luar masih impor. Artinya apa? Kalau harga di luar naik, kita juga harus membayar lebih banyak. Supaya kita ngerti masalah ini," jelas Presiden Jokowi.

Terbaru, Presiden Jokowi kembali menyinggung soal harga BBM dalam acara Silaturahmi Nasional PPAD 2022 di Sentul Bogor Jawa Barat. Dia mengatakan saat ini kondisi ekonomi dunia tengah sulit. Bahkan, 320 juta orang di dunia saat ini berada pada posisi menderita kelaparan akut.

"Saya sampaikan apa adanya karena posisi pertumbuhan ekonomi bukan hanya turun tapi anjlok semuanya, Singapura, Eropa, Australia, Amerika, semuanya," katanya.

Mahalnya harga minyak dunia membuat harga BBM di Indonesia saat ini bukan pada posisi keekonomiannya. "Coba di negara kita bayangkan Pertalite naik dari Rp7.650, harga sekarang kemudian jadi harga yang bener Rp17.100, demonya berapa bulan? Naik 10 persen saja demonya saya ingat, demonya 3 bulan kalau naik sampai 100 persen lebih demonya akan berapa bulan?" ujarnya.

3 dari 4 halaman

Kode Pemerintah Naikkan Harga BBM

Kini, pemerintah sudah memberi sinyal tidak akan lagi menambah anggaran kompensasi dan subsisi Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun ini. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi BBM tetap Rp502 triliun. 

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono menyebut dana tersebut sudah ditetapkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

"Kalau subsidi kan sudah diketok itu sama DPR yang Rp502 triliun," kata Susiwijono di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (15/8). 

Susi kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menambah anggaran untuk subsidi BBM. Mengingat anggaran yang disiapkan APBN dinilai sudah cukup untuk menahan harga BBM dari nilai keekonomiannya. 

"Space APBN kita kan sudah cukup," kata dia. 

Sebaliknya, saat ini pemerintah sedang mempertimbangkan kenaikan harga BBM. Agar APBN tidak terlalu besar menanggung selisih harga yang ditetapkan pemerintah dengan nilai keekonomiannya. 

"Kita sedang hitung (kenaikan harga BBM), perlu opsi kenaikan harganya," kata dia.

4 dari 4 halaman

Mulai Gelar Rapat untuk Naikkan Harga BBM

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono membenarkan kabar bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berbagai jenisnya. Hal ini dilakukan dalam upaya menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.

Mengingat, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp502 triliun hingga akhir tahun. Namun di sisi lain, harga minyak dunia terus meningkat di tingkat global.

"Angkanya semua sedang dihitung, kita sedang siapkan angkanya. Kita sudah rapat beberapa kali," kata Susiwijono di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (15/8).

Susi menjelaskan, perhitungan kenaikan harga BBM sedang dilakukan berbagai kementerian dan lembaga terkait. Termasuk dampak kenaikan inflasi yang bisa dihasilkan jika pemerintah memutuskan kenaikan BBM.

"Semua sedang dihitung, kalau naik nanti kontribusi ke inflasinya berapa, karena akan dorong inflasi," kata dia.

Rencana kenaikan harga BBM ini kata Susi sudah menjadi opsi pemerintah. Sebab selama ini pemerintah telah menahan harganya agar tidak berdampak langsung di masyarakat. (mdk/idr)

Baca juga:
Siap-Siap, Pemerintah Sudah Gelar Rapat untuk Naikkan Harga BBM
Pemerintah Masih Tahan Harga BBM Meski Minyak Melonjak, dari Mana Dananya?
Pemerintah Pertimbangkan Naikkan Harga BBM Pertamax, Indef: Jangan Langsung Tinggi
YLKI: Pengguna Mobil Tak Layak Pakai BBM Subsidi, Bukan Bagian Masyarakat Miskin
YLKI Ingatkan Pemerintah: Jangan Tahan Harga BBM Pakai Utang Baru
Di Balik Keputusan Pemerintah Jokowi Pertahankan Harga BBM

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini