Kadin: Industri Tidak Langsung Tumbuh, meski Harga Gas Turun

Kadin: Industri Tidak Langsung Tumbuh, meski Harga Gas Turun
UANG | 26 Februari 2020 21:44 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai penurunan harga gas industri mulai 1 April tahun ini belum berdampak signifikan terhadap pertumbuhan industri dalam waktu dekat.

Achmad Widjaja, Wakil Komisi Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia, mengatakan dampaknya (penurunan harga gas industri) tidak semudah itu kemudian industri langsung tumbuh, karena ada faktor kondisi ekonomi nasional dan global. Apalagi harga gas industri sebelumnya cukup tinggi dalam kurun waktu lama yang menyebabkan pertumbuhan industri mengalami pelambatan.

"Mungkin industri bisa terlihat pertumbuhannya akhir tahun nanti, jika benar jadi diturunkan pada April 2020. Namun, jika batal diturunkan, industri akan terus mengalami pelambatan," ujar Achmad Widjaja dalam keterangan persnya, kemarin.

Menurut mantan ketua umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), ketika kondisi ekonomi stabil, industri sebenarnya bisa tumbuh di level tujuh persen dari semula lima persen. Namun, dengan kondisi ekonomi saat ini, bisa bertahan di angka lima persen, sudah bagus.

Ada lima industri yang akan terdampak jika harga gas industri turun, yakni petrokimia, pupuk, keramik, kaca lembaran, dan baja.

1 dari 1 halaman

Subsidi Industri

ke sari roti

2017 Merdeka.com

Sementara itu, mantan wakil ketua komisi VI DPR RI, Inas N Zubir, berpendapat penurunan harga gas industri merupakan bentuk insentif pemerintah, sehingga industri dalam negeri dapat tumbuh dan bersaing baik di kawasan maupun global demi mendorong perekonomian nasional.

Kata dia, upaya menurunkan harga gas industri sebagaimana amanat Perpres No 40/2016 dilakukan melalui pengurangan atau penghilangan bagian negara dari hulu sebesar sekitar US$ 2,2 per MMBTU.

"Seperti disampaikan Presiden Jokowi dalam pengantar rapat terbatas pada 6 Januari lalu, dengan dua opsi tambahan yaitu penerapan DMO dan pelaksanaan impor gas," jelas dia.

Inas bercerita, kalau melihat ke belakang, tepatnya pada 2005 pemerintah pernah mencabut subsidi BBM untuk industri karena kemampuan APBN tidak lagi dapat menopang beban subsidi BBM.

Namun, jika pengurangan penerimaan negara dari hulu dilaksanakan demi memberikan insentif untuk industri, maka hal ini adalah bentuk lain dari subsidi untuk bahan bakar industri, karena pada akhirnya berdampak pada target penerimaan APBN dan keuangan negara.

Inas mempertanyakan apakah langkah tepat jika negara memberikan subsidi gas bumi untuk industri. Padahal ada kebijakan mirip seperti itu yang kemudian dicabut pemerintah, yaitu subsidi BBM industri pada 2005.

"Apakah pemerintah sudah putus asa sehingga sudah tidak dapat menemukan instrumen atau solusi lain yang dapat diberikan kepada industri agar dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian nasional dibanding memilih untuk melakukan skema subsidi gas bumi untuk industri?" tanyanya.

Inas menyarankan, pemerintah melakukan evaluasi apakah memang keputusan yang diambil ini menuju ke jalan benar atau sebaliknya, menggerus keuangan negara saja, karena nilai tambah yang seharusnya diberikan industri tidak tercapai.

Di satu sisi, sesuai data per Januari 2020, harga BBM industri jenis HSD adalah Rp13.365 per liter atau setara US$ 27,2 per MMBTU. Jenis MFO Rp11.220 per liter, setara US$ 21,19 per MMBTU. Sementara harga gas bumi industri berkisar US$ 8,87 per MMBTU.

"Melihat profil tersebut, maka sejatinya harga gas bumi adalah 32 persen dari harga HSD dan 42 persen dari harga MFO dan jauh lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar minyak," pungkas Inas. (mdk/sya)

Baca juga:
Produsen Tekstil Tanah Air Disarankan Gunakan Kapas Amerika
SKK Migas Sebut Penurunan Harga Gas Industri Harus Selektif
Tekan Impor Bahan Baku Tekstil, Jokowi Resmikan Pabrik Viscose Rayon di Riau
Keunikan Batik Jawa Timur, Bermotif Rumbai Singa sampai Lukisan Bebas
Pemerintah Tambah Sektor Industri Dapat Diskon Harga Gas
Sri Mulyani: Industri Kendal dan Brebes Bisa Jadi Contoh Tujuan Investasi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami