Kaleidoskop 2018: Nilai Rupiah Disebut Terburuk Sejak Krisis 1998

UANG | 30 Desember 2018 07:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) sepanjang 2018 sempat membuat publik terkejut. Rupiah bahkan mencapai titik terlemah hingga berada di atas level Rp 15.200-an per USD. Angka ini jauh melampaui target pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp 13.400 per USD.

Bahkan sebagian pihak beranggapan bahwa kondisi ini sudah parah dan memprihatinkan. Sebab, posisi nominal mata uang Garuda ini bahkan melebihi yang terjadi pada krisis 1998 lalu.

Salah satunya yang diungkapkan pengamat ekonomi, Faisal Basri. Dia menyebut bahwa kondisi nilai tukar saat ini merupakan terburuk sepanjang sejarah. "Nilai tukar Rupiah terburuk sepanjang sejarah ini sekarang," kata Faisal dalam sebuah acara diskusi di kawasan Jakarta Selatan.

Faisal membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa tahun ke belakang. Tahun ini, rata-rata nilai tukar Rupiah tidak lebih baik bahkan dari tahun 1998. "Rata-rata setahun tahun 1998 itu rata - rata Rupiah cuma 10.000," tuturnya.

Ekonom Mizuho Bank, Vishnu Varathan, mengatajan Rupiah menjadi salah satu mata uang berkinerja buruk di regional pada 2018. Analis menilai, nilai tukar Rupiah yang tertekan itu didorong defisit neraca transaksi berjalan dan kekacauan di pasar negara berkembang yang disebabkan krisis keuangan Turki.

"Kepemilikan asing yang tinggi pada obligasi ditambah dengan utang Dolar Amerika Serikat perusahaan Indonesia yang meningkat juga membuat (Rupiah) cenderung melemah," ujarnya seperti dikutip dari laman CNBC.

Inilah rangkuman fakta-fakta tentang masalah Rupiah selama tahun ini hingga disebut jadi yang terburuk semenjak krisis 1998.

1 dari 5 halaman

Pelemahan Rupiah Karena Faktor Ekternal Bertubi-tubi

Jokowi hadiri peluncuran rupiah baru. ©2016 merdeka.com/rizky erzi andwika

Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat suara terkait pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) yang nyaris menyentuh 15.000. Menurut Presiden Jokowi, pelemahan nilai tukar Rupiah ini merupakan imbas dari berbagai faktor eksternal.

"Pelemahan kurs tidak hanya di Indonesia. Ini adalah faktor eksternal yang bertubi-tubi, baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS), baik yang berkaitan dengan perang dagang AS dan China, baik berkaitan krisis yang ada di Turki dan di Argentina," ungkap Presiden Jokowi saat ditemui di Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok, Jakarta.

Meski demikian, dia mengaku tetap mewaspadai dampak dari gejolak perekonomian dunia tersebut. Terlebih dalam hal ini, pemerintah akan terus melakukan koordinasi di berbagai sektor.

"Saya selalu melakukan koordinasi berkaitan sektor moneter, sektor industri, pelaku usaha. Koordinasi yang kuat ini menjadi kunci sehingga jalannya itu dari semuanya," imbuh Presiden Jokowi.

"Kuncinya memang ada dua yang saya sampaikan. Di investasi terus meningkat dan ekspor yang juga harus meningkat sehingga bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan," ucap Presiden Jokowi.

2 dari 5 halaman

Rupiah Melemah Akibat Perang Dagang AS dan China

perang dagang. ©2018 liputan6.com

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengakui bahwa Indonesia tidak bisa menghindari dampak dari trade war (perang dagang) yang saat ini sedang menjadi isu global. Mau tidak mau, Indonesia harus mampu menghadapi perang dagang tersebut.

"Kita percaya bahwa kita bisa menjawab ini (perang dagang) walaupun dampaknya pasti kena, tidak bisa tidak, karena bukan kita yang melakukan inisiatif (menyerukan)," kata Menko Darmin.

Perang dagang antara negara besar tidak dapat dihindari, dan dampaknya tentu saja akan langsung terasa pada nilai tukar Rupiah yang sudah pasti akan terdepresiasi atau melemah terhadap Dolar Amerika.

"Kita tidak bisa menghindari yang namanya perang dagang dan sebagainya yang ujung-ujungnya itu pasti mempengaruhi kurs, nilai tukar."

3 dari 5 halaman

Rupiah Melemah Karena Ekonomi AS Semakin Kuat

Donald Trump. ©2012 Merdeka.com

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dalam beberapa waktu terakhir diakibatkan oleh semakin membaiknya ekonomi negara Amerika Serikat. Dia menegaskan, pemerintah secara terus menerus memantau dampak kebijakan AS terhadap Indonesia.

"Menyikapi berkembangnya perekonomian terutama yang terjadi di Amerika Serikat sangat kuat yang kemudian menimbulkan sentimen terhadap USD dan beberapa risiko yang berasal dari negara-negara berkembang," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan.

Dari sisi perekonomian dalam negeri, pemerintah secara aktif terus memantau efektivitas setiap kebijakan yang dilakukan. Pemerintah, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengkaji instrumen yang perlu ditambah untuk memperkuat ekonomi Indonesia dari segala resiko eksternal.

"Di dalam perekonomian Indonesia sendiri kita juga terus menerus melihat bagaimana dinamika ini harus kita sikapi. Dan kebijakan-kebijakan yang sudah dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia dengan OJK apakah masih perlu untuk ditambah, karena kemudian dinamika yang terjadi berubah atau makin kuat," jelasnya.

4 dari 5 halaman

Pelemahan Nilai Tukar Mulai Terjadi Sejak Trump Pimpin AS

Donald Trump. © yahoo.com

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan tekanan terhadap nilai tukar mata uang dunia, termasuk Rupiah merupakan dampak dari perubahan yang terjadi di Amerika Serikat (AS), khususnya sejak pemerintah Donald Trump.

Dia menjelaskan, sejak pergantian pemerintahan AS kepada Trump, menimbulkan dampak yang besar bagi ekonomi dunia, tak terkecuali Indonesia.

"Sejak pergantian pemerintahan AS tersebut benar-benar terjadi perubahan. Faktanya begitu. Perubahan-perubahan yang terjadi khususnya mulai tahun ini. Dengan ada perubahan bisa kita cermati dan berdampak ke seluruh dunia termasuk Indoensia. Satu pola pertumbuhan dunia merata, dulu negara maju naik, negara berkembang naik," ujar dia di Gedung DPR RI, Jakarta.

Oleh sebab itu, depresiasi yang terjadi pada rupiah hingga menembus Rp 15.000 per USD merupakan fenomena global. Hal ini tidak hanya dialami Indonesia saja, melainkan negara lain.

5 dari 5 halaman

Impor BBM Jadi Salah Satu Penyumbang Penyebab Pelemahan

Kapal tanker Tanjung Glory Dua milik Pertamina. Divisi Humas Polri

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan impor bahan bakar merupakan penyebab dominan dari defisit current account dan depresiasi nilai tukar Rupiah.

"Jadi impor bahan bakar adalah alasan kenapa kita mengalami masalah defisit transaksi berjalan dan masalah kenapa kita alami Rupiah selalu di bawah tekanan," kata dia.

Mantan Menteri Keuangan ini menjelaskan, jika menilik komposisi impor, maka sebagian besar merupakan impor migas atau bahan bakar. "Jika kita lihat struktur impor didominasi oleh impor migas," jelasnya.

Dia mengatakan, berbagai kebijakan untuk meningkatkan ekspor perlu dilakukan sebagai upaya mengatasi defisit neraca perdagangan. Namun, rencana jangka pendek yang dapat dilakukan adalah dengan berupaya menekan impor.

"Meningkatkan ekspor tidak mudah. Apa yang harus kita lakukan adalah mengurangi impor," ujarnya.

Salah satu upaya menekan impor bahan bakar menurut Bambang dapat dilakukan dengan membangun fasilitas refinery. "Untuk jangka pendek pertanyaannya kenapa impor bahan bakar banyak, karena kita tidak punya cukup refinery. Butuh kesediaan politik dan juga kesediaan bisnis," kata dia.

  (mdk/bim)

Baca juga:
BI Jamin Ketersediaan Uang Cukup Hadapi Tahun Baru
Bos BI: Rupiah Sebesar Rp 14.500 Masih di Bawah Fundamental
Neraca Pembayaran Triwulan IV Diprediksi Bank Indonesia Surplus USD 4 M
Bos BI: Rupiah Stabil Cenderung Menguat Meski Masih Terjadi Ketidakpastian Global
Rupiah Masih Menguat di Level Rp Rp 14.464 per USD
Menko Darmin Sebut Kenaikan Suku Bunga The Fed Tak Berpengaruh ke Rupiah
Atasi Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed di 2019, Pemerintah Disarankan Lakukan Ini