Kemenhub Sebut Jepang Hingga Malaysia Tertarik Kelola 128 Terminal Bus di Indonesia

UANG | 8 November 2019 16:43 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan terus menggenjot pembangunan terminal berkonsep Transit Oriented Development (TOD). Hal ini bertujuan agar pertumbuhan penggunaan bus di kalangan masyarakat kembali meningkat.

Direktur Prasarana Transportasi Darat Kemenhub, Risal Wasal, mengatakan ada banyak investor yang berminat untuk ikut bangun terminal jadi lebih modern.

"Dari 128 terminal yang kita punya, ada 56 investor yang minat kembangkan, tadinya 44. Lalu investor ada yang berasal dari Korea, Jepang, Malaysia, London (Inggris) juga kalau tidak salah," tutur Risal di Jakarta, Jumat (8/11).

Bahkan, menurut Risal, ada investor asal Korea yang sudah menandatangani perjanjian kerjasama (MoU) dengan kontraktor asal Indonesia. Nantinya, pengembangan terminal akan dilakukan sepenuhnya oleh swasta, mulai dari desain bangunan, tata letak hingga urusan keamanan dan kebersihan.

"Akan kami serahkan ke swasta dengan masa konsesi 30 tahun. Di tahun ke-31, lahan akan menjadi milik pemerintah lagi," ungkap Risal.

Selanjutnya, pemerintah hanya sebatas mengelola operasional bus saja. Skema ini diklaim bisa mengembangkan terminal lebih cepat. Ketika sudah modern, orang-orang akan berdatangan ke terminal. Dan bukan hanya untuk naik, turun atau transit bus, namun untuk melakukan kegiatan lain.

"Ada yang kerja ke perkantoran, ada yang ke hotel, mal, jadi terminal akan ramai," ujar Risal.

1 dari 1 halaman

Kemenhub Fokus Cari Investor Modernisasi Terminal Bus di Jawa

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprioritaskan pulau Jawa sebagai tujuan investasi sektor swasta untuk pembangunan terminal bus penumpang. Saat ini terdapat 128 terminal tipe A yang tersebar di wilayah Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, mengatakan dari jumlah tersebut sebanyak 61 terminal tipe A ada di Pulau Jawa dan kebanyakan masih bersifat konvensional. Artinya, terminal tersebut hanya berfungsi sebagai terminal saja belum tersambung dengan pusat kegiatan ekonomi seperti mal atau pusat perbelanjaan.

"Prioritas pertama adalah terminal tipe A di Pulau Jawa. Kami sudah buat studi kelaikannya untuk terminal, kalau investor setuju tinggal pakai punya kita," kata Budi saat ditemui di Jakarta.

Budi mengatakan, fungsi terminal saat ini harus mengikuti perkembangan zaman yang ada. Bahkan, dirinya menginginkan terminal bus dapat menjadi seperti bandara yang saat ini telah memiliki banyak fungsi.

"Kita akan bangun terminal dengan cara mix use. Ke depan, ini yang kita lakukan lewat kerjasama dengan pihak swasta. Banyak potensi besar yang dimiliki terminal kita," katanya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
Hingga 7 November 2019, Dana Asing Tercatat Rp226 Triliun Masuk RI
Pemerintah Luncurkan Program CEFIM Dukung Investasi Energi Terbarukan
Ajaib Tawarkan Investasi Reksa Dana Bonus Asuransi Bebas Premi
Layanan Nonton Film Streaming Salah Satu Penyebab Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi RI
Proses Izin Berbelit-belit Hingga Aturan Pajak Buat Investor Ogah Masuk Indonesia
BI Ungkap Alasan Vitalnya Swasta dalam Pembangunan Infrastruktur 5 Tahun Mendatang
3 Pekerjaan Rumah yang Perlu Dibenahi 5 Tahun ke Depan