Kemenperin Kejar Realisasi Investasi Hilirisasi Rp 921 T Pulihkan Ekonomi

Kemenperin Kejar Realisasi Investasi Hilirisasi Rp 921 T Pulihkan Ekonomi
Menperin di PT Pertamina Refinery Unit II Dumai. ©2020 Istimewa
UANG | 6 Maret 2021 14:04 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah fokus untuk terus meningkatkan investasi di Tanah Air sebagai salah satu upaya strategis agar dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat dari dampak pandemi Covid-19.

Kemenperin mencatat terdapat 81 proyek dengan total nilai investasi sebesar Rp921,84 triliun, yang akan dipacu realisasinya untuk pengembangan proyek hilirisasi dalam kurun waktu tahun 2023-2030. Dari total investasi tersebut, bakal menyerap tenaga kerja sebanyak 125.286 orang.

"Sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa kunci pertumbuhan ekonomi kita adalah di investasi. Maka itu, Kemenperin aktif berkontribusi dalam menarik investasi baru, khususnya sektor industri," kata Menperin seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Sabtu (6/3).

"Dari investasi ini, tentunya akan menciptakan lapangan kerja yang banyak. Hal ini yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Selain itu juga akan mengurangi tingkat pengangguran, baik itu karena pandemi atau angkatan kerja baru," papar Menteri Agus.

Di sektor hilirisasi petrokimia, Kemenperin terus mendorong realisasi investasi pengembangan industri petrokimia PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, yang akan menghasilkan produk olefin dan aromatik.

Berikutnya, Kemenperin memacu hilirisasi nikel dalam rangka meningkatkan nilai tambah bahan baku nikel dan kobalt yang tersedia di Indonesia. Bahan baku ini dapat digunakan dalam pembuatan baterai kendaraan listrik.

"Saat ini, secara total kita punya 30 smelter yang beroperasi, kemudian yang sedang konstruksi 20 smelter, dan dalam tahap feasibility study sebanyak 9 smelter," sebut Menperin.

Smelter ini berperan untuk menguatkan struktur industri dalam negeri agar lebih berdaya saing di kancah global.

"Implikasi dari kebijakan hilirisasi ini, industri logam dasar pada tahun 2020 tumbuh 5,87 persen, ekspornya pun tumbuh 30 persen, bahkan mampu menyumbang devisa negara hingga USD 22 miliar," ungkapnya.

Saat ini Indonesia memiliki 30 persen dari cadangan bijih nikel dunia, sehingga menjadi jaminan bahan baku untuk investasi di sektor baterai kendaraan listrik, yang pada akhirnya akan menarik investasi di sektor kendaraan listrik.

Beberapa perusahaan yang akan memproduksi bahan baku baterai listrik nikel-kobalt, di antaranya adalah PT QMB (Sulawesi Tengah), PT Halmahera Persada Lygend (Pulau Obi), PT Weda Bay Nickel (Maluku Utara), dan PT Smelter Nikel Indonesia (Banten).

Sedangkan untuk hilirisasi minyak sawit, pemerintah telah mendorong program B30 (mencampur 70 persen BBM diesel dengan 30 persen FAME/Biodiesel). Upaya simultan pemerintah ini untuk mengurangi impor BBM diesel sekaligus mengendalikan emisi pencemaran udara.

Baca Selanjutnya: Selanjutnya...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami