Kemenperin Pacu Pengembangan Industri Perhiasan untuk Bantu Ekspor Indonesia

Kemenperin Pacu Pengembangan Industri Perhiasan untuk Bantu Ekspor Indonesia
UANG | 5 Juni 2020 13:46 Reporter : Sulaeman

Merdeka.com - Kementerian Perindustrian terus mendorong para pelaku industri kecil menengah (IKM) agar tetap bergairah menjalankan usahanya di tengah tekanan berat dari dampak pandemi Covid-19. Salah satu sektor yang dipacu adalah IKM perhiasan, karena telah mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional melalui capaian nilai ekspornya.

"Selaku pembina industri, kami bertekad melakukan pengembangan kepada sektor IKM di dalam negeri supaya tetap eksis di saat pandemi Covid-19, di antaranya adalah IKM perhiasan," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Jumat (5/6).

Dia menyebutkan, perhiasan merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan bagi Indonesia karena sumbangsihnya selama ini dapat mendongkrak nilai ekspor industri pengolahan non migas, yakni sebesar 1,55 persen sepanjang tahun 2019. Total ekspor sektor industri pada tahun lalu mencapai USD 126,57 miliar.

Kemudian pada triwulan I tahun 2020, kontribusinya mencapai USD 284,9 juta. Bahkan, selama lima tahun terakhir (2015-2019), neraca perdagangan perhiasan terjadi surplus setiap tahunnya.

"Total perdagangan perhiasan pada tahun 2019 sebesar USD 2,073 miliar, terdiri dari ekspor yang menembus hingga USD 1,957 miliar. Tahun lalu, terjadi surplus USD 1,842 miliar," jelas dia.

1 dari 1 halaman

Dampak Negatif Pandemi

pandemi rev1

Namun, pandemi ini membawa dampak negatif terhadap bisnis industri perhiasan. Khususnya di daerah-daerah yang menjadi sentra emas dan perhiasan seperti di Jawa Timur, Jawa Barat dan beberapa daerah lainnya.

"Industri perhiasan emas merupakan salah satu sektor yang cukup terdampak secara signifikan oleh efek domino pandemi ini. Alasannya, produk perhiasan bukan merupakan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup, selain itu banyak toko emas fisik yang dilarang beroperasi dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)," papar Gati.

Oleh karena itu, pemerintah telah memberikan berbagai kebijakan strategis dalam upaya mendukung sektor manufaktur, termasuk IKM. Misalnya, pemberian stimulus fiskal mengenai keringanan pajak dan program restrukturisasi kredit. Selain itu, kami telah mengusulkan skema stimulus fiskal untuk penurunan biaya dan menambah pembiayaan modal kerja sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) Eddy Susanto Yahya mengemukakan, penjualan perhiasan emas di pasar domestik turun drastis hingga 90 persen pada April 2020. Ini merupakan penjualan bulanan terendah sejak krisis moneter tahun 1998.

Eddy menambahkan, kondisi pasar ekspor produk perhiasan emas tidak jauh berbeda dengan pasar domestik. Pada bulan April, kemerosotan penjualan paling dirasakan signifikan.

"Hampir semua negara sedang mengalami puncak persebaran Covid-19, sehingga banyak negara tujuan ekspor emas dan perhiasan yang menerapkan lockdown dan menolak pengiriman," tandasnya. (mdk/idr)

Baca juga:
Hadapi New Normal, Pemerintah Beri Stimulus Pemulihan Sektor Manufaktur
Wapres Sebut New Normal jadi Peluang Industri Halal dan UMKM
Jokowi Minta Kawasan Tambang hingga Industri yang Minim Risiko Covid-19 Dilonggarkan
Industri HPTL Butuh Regulasi Khusus untuk Kepastian Usaha
Gairahkan Ekonomi, Pemerintah Jokowi Bakal Fokus ke Sektor Konsumsi dan Investasi
Kemenperin: Pelaku Industri Makanan dan Minuman Siap Jalankan Tatanan Kenormalan Baru

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5