Kemenperin Sebut Pasokan Bahan Baku Industri dari China Mulai Normal

Kemenperin Sebut Pasokan Bahan Baku Industri dari China Mulai Normal
UANG | 18 Maret 2020 11:05 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kementerian Perindustrian terus mendorong pelaku industri di dalam negeri agar tetap berproduksi guna memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor. Langkah strategis dilakukan adalah menjaga ketersediaan bahan baku, meskipun di tengah kondisi tekanan ekonomi global, termasuk dampak terhadap pandemi virus corona atau covid-19.

“Kami bertekad untuk semakin memacu geliat dari pelaku industri kecil dan menengah (IKM), supaya kinerja mereka bisa kembali pulih,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih dikutip dari laman resminya, Rabu (18/3).

Gati mengakui, pada awal merebaknya virus corona di Wuhan, China, kegiatan IKM di dalam negeri cukup terpengaruh karena sebagian bahan baku berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Namun saat ini, beberapa produsen di China sudah mulai beroperasi.

“Momentum ini harus menjadi titik balik bagi IKM di Indonesia untuk mulai meningkatkan produksinya. Bahkan, kami berharap, kegiatan ekspor mereka mampu kembali normal,” paparnya.

1 dari 1 halaman

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono, menambahkan saat ini bahan baku yang berasal dari China sudah kembali masuk ke Indonesia, meski jumlahnya belum maksimal. Sebagian sudah masuk ke dalam negeri, seperti tekstil, logam, dan permesinan meski dalam jumlah terbatas," ungkapnya.

Angkanya pun bervariasi mulai 20 persen sampai 40 persen pada setiap kebutuhan bahan baku. Guna mempermudah prosedur impor, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan stimulus bagi sektor industri manufaktur di tanah air. Misalnya, mempermudah prosedur untuk bahan baku yang berasal dari China, ujarnya.

Kemudian, melakukan relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22) Impor. Pembebasan PPh Pasal 22 Impor ini diberikan kepada 19 sektor tertentu, Wajib Pajak Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan Wajib Pajak KITE IKM.

Relaksasi tersebut berlaku selama enam bulan terhitung mulai bulan April hingga September 2020 dengan total perkiraan pembebasan sebesar Rp8,15 triliun. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya memberikan ruang cashflow bagi industri sebagai kompensasi switching cost (biaya sehubungan perubahan negara asal impor). (mdk/azz)

Baca juga:
PNS Kemenperin Pengguna Transportasi Umum dan Usia 50 Tahun Lebih Kerja dari Rumah
Bea Impor Bahan Baku Dibebaskan, Menperin Harap Tak Ada Pemain Gelap
Kawasan Teluk Bintuni Cocok untuk Industri Petrokimia
Menperin Agus Akui Cuti Tambahan 2020 Ganggu Kinerja Industri
Kemenperin Janjikan Insentif untuk Produk Obat Berbahan Baku Lokal
Menperin Agus Gumiwang Dorong Percepatan Substitusi Impor Produk Farmasi

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5