Kementerian BUMN: Maskapai yang Jalani Efisiensi Bakal Bertahan di Era New Normal

Kementerian BUMN: Maskapai yang Jalani Efisiensi Bakal Bertahan di Era New Normal
UANG | 20 Mei 2020 15:34 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, maskapai-maskapai yang menjalani efisiensi akan bertahan dalam industri penerbangan di era normal baru (new normal). Seperti diketahui, Kementerian BUMN mengeluarkan skenario tahapan pemulihan kegiatan BUMN, sebagai salah satu antisipasi New Normal di tengah pandemi Corona.

"Saya kembali memberikan contoh bahwa industri penerbangan di seluruh dunia mengalami shock dan revolusi besar, di mana nanti mungkin hanya maskapai-maskapai yang sangat efisien yang bisa bertahan," ujarnya dalam seminar daring di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (20/5).

Menurutnya, maskapai-maskapai konvensional atau umum kemungkinan tidak mampu bertahan dan bangkrut akibat pengurangan penerbangan udara yang diperkirakan berlangsung selama beberapa tahun ke depan.

"Efisiensi menjadi hal penting, kalau kita melihat new normal ini bagaimana kita bisa menjadi perusahaan-perusahaan yang efisien," kata Kartika.

Sebelumnya, Anggota Komisi VI DPR Deddy Yevri Sitorus mengungkapkan berdasarkan data, maskapai dunia akan kehilangan pendapatan sebesar USD 252 miliar hingga pertengahan 2020. Saat ini, seluruh maskapai di dunia melakukan program restrukturisasi, baik yang melibatkan pemerintah maupun tidak.

Sebagai contoh Singapore Airlines yang beberapa minggu lalu mendapat dana segar 19 miliar dolar Singapura dan 5,3 miliar dolar Singapura dari penerbitan saham baru, ditambah 9,7 miliar dolar Singapura, dan pinjaman dari DBS sebesar 4 miliar dolar Singapura. Bantuan serupa juga diterima Qantas yang mendapat 1,1 miliar dolar Australia dari pemerintah Negeri Kanguru tersebut.

1 dari 1 halaman

Industri Penerbangan Pulih di 2023

Dampak Virus Corona terhadap industri penerbangan diprediksi berlangsung selama bertahun-tahun. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan lalu lintas penumpang udara tidak akan pulih ke tingkat sebelum krisis Corona sampai setidaknya 2023.

Asosiasi maskapai penerbangan dunia tersebut mengatakan bahwa permintaan untuk perjalanan udara anjlok lebih dari 90 persen di Eropa dan AS sejak dimulainya pandemi. Pemulihan dikatakan akan lebih lambat jika kebijakan lockdown dan pembatasan perjalanan diperpanjang.

"Kami meminta pemerintah untuk melakukan pendekatan bertahap untuk memulai kembali industri ini dan terbang lagi," ujar Direktur Jenderal dan CEO IATA, Alexandre de Juniac, seperti mengutip laman CNBC, Jumat (15/5).

De Juniac berharap beberapa penerbangan akan mulai beroperasi pada musim panas. "Kami ingin membuka kembali dan meningkatkan pasar domestik pada akhir kuartal kedua, dan membuka pasar regional atau benua - seperti Eropa, Amerika Utara atau Asia-Pasifik- pada kuartal ketiga, dan antarbenua di musim gugur," jelas dia. (mdk/azz)

Baca juga:
Garuda Indonesia Komitmen Taati Aturan Cegah Penumpukan Penumpang Terulang
Kemenhub Sanksi Bekukan Rute Batik Air Usai Terjadi Penumpukan Penumpang di Bandara
Garuda Indonesia Minta Perpanjangan Waktu Pelunasan Utang USD 500 Juta
Selamatkan Bisnis, Garuda Indonesia Rumahkan 800 Karyawan Kontrak
Lion Air Siagakan 15 Petugas Bantu Atur Antrean Penumpang di Bandara
Industri Penerbangan Diprediksi Baru Kembali Pulih Sedia Kala Imbas Corona di 2023

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami