Kenaikan Harga Komoditas Dunia, Simalakama untuk Indonesia

Kenaikan Harga Komoditas Dunia, Simalakama untuk Indonesia
Index Minyak. AFP, merdeka.com/Djoko
EKONOMI | 31 Mei 2022 16:11 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menilai, perang antara Rusia dan Ukraina berpotensi meluas ke Baltik. Kondisi ini terjadi seiring dengan ketegangan yang terjadi antara Finlandia dan Swedia dengan Rusia.

Akibatnya, kenaikan harga komoditas akan terus berlanjut dan berpotensi makin tinggi. Dalam kondisi demikian, posisi Indonesia bagaikan buah simalakama.

"Kenaikan tembaga, nikel, CPO dan batubara ini menguntungkan kita, tapi tingginya harga ICP ini akan menekan APBN kita," kata Said dalam Rapat Kerja DPR-RI dengan Pemerintah di Komplek DPR-MPR, Jakarta, Selasa (31/5).

Kenaikan harga komoditas tersebut membuat pemerintah mengusulkan revisi beberapa postur APBN beberapa waktu lalu. Harga ICP usulan pemerintah dipatok USD 80 - USD 100 per barel. Menurut Said angka tersebut akan berdampak pada alokasi subsidi dan kompensasi yang dibayarkan pemerintah melalui APBN.

"Ini tidak ada salahnya untuk sedia payung sebelum hujan," ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Target Lifting Dinilai Rendah

dinilai rendah

Hanya saja, Said menyayangkan lifting minyak bumi yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah. Dia menyadari hasil minyak bumi akan terus mengalami penyusutan setiap tahunnya. Namun, rendahnya target yang dibuat pemerintah tidak sejalan dengan investasi di sektor hulu.

"Di sektor hulu kita mendapatkan investasi USD 10,7 miliar atau Rp 155 triliun. Jumlahnya meningkat dari tahun 2020 yang hanya USD 10,7 miliar," kata dia.

Sehingga seharusnya lifting minyak bumi bisa ditingkatkan menjadi sekitar 700 ribu barel per hari. Lebih tinggi dari target pemerintah yakni 619 ribu - 680 ribu barel per hari.

Sedangkan untuk lifting gas yang ditetapkan pemerintah sebesar 1,02 juta hingga 1,11 juta barel setara minyak per hari.

(mdk/bim)

Baca juga:
Ini Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed kepada Indonesia
Jokowi: APBN Itu Uang Rakyat, Jangan Belikan Barang Impor
April 2022, Pembiayaan APBN Melalui Utang Turun 62,4 Persen
Per 13 Mei 2022, Realisasi Anggaran PEN Capai Rp80,79 Triliun
Harga Minyak Naik, Realisasi Subsidi per April 2022 Meningkat Jadi Rp56,62 T
Pemerintah Gelontorkan Rp750 Triliun untuk THR Hingga Bansos
Sri Mulyani Catat APBN Surplus Rp103 Triliun Hingga April 2022

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini