Wawancara Khusus

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi: Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi: Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi
UANG | 8 Juli 2020 17:21 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketahanan pangan nasional menjadi kunci utama dalam menghadapi masa krisis selanjutnya setelah wabah pandemi corona ini berakhir. Seluruh negara di dunia di masa pemulihan nanti akan mulai menyusun kekuatan pangannya masing-masing. Salah satunya yakni dengan meningkatkan produksi pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, virus corona memang meluluh lantakkan aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian yang mempunyai tupoksi menyediakan pangan. Mulai dari sistem produksi hingga distribusi terganggu.

Dia menjelaskan, saat ini ada beberapa bahan pangan yang masih impor, namun pemerintah terus memikirkan agar Indonesia mampu menyediakan pangan sendiri dan memanfaatkan pangan lokal.

Berikut wawancara khusus dengan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengenai ketahanan pangan di tengah krisis.

1. Bagaimana support BPPSDMP terhadap kondisi ketahanan pangan Indonesia di tengah pandemi ini?

Kalau ditanya bagaimana support BPPSDM terhadap ketahanan kita tentu kita support dari SDM nya, SDM pertanian itu ya petani. Siapa lagi ya praktisi pertanian, dan penyuluh pertanian. Itu kita genjot agar mereka terus berproduksi, jadi penyuluh harus tetap turun ke lapang, ke sawah, ladang untuk mendampingi petani untuk genjot produksi, karena produksi tidak boleh delay, tidak boleh tertahan apalagi terlambat.

Kalau produksi terlambat artinya nanti produksi terlambat pangan juga, sehingga masalah pangan bisa menjadi soal, ini yang tidak boleh terjadi, oleh karena itu dalam situasi dan kondisi apapun pertanian itu harus jalan terus, maka petani harus turun ke lapang untuk mendampingi bagaimana mengolah tanah yang baik, memilih varietas yang bagus, dan bagaimana cara menggunakan transplanter, dan mengelola gulma, bagaimana cara mengelola panen menggunakan harvester, cara skill panen menggunakan dryer dan sebagainya sampai panen kita ke pasar, sehingga petani itu mendapatkan keuntungan yang layak dan maksimal, kalau begitu maka dia pasti akan terdorong untuk melakukan produksi berikutnya, intinya kontribusi BPPSDM itu bagaimana kita mendorong SDM pertanian, penyuluh, praktisi pertanian untuk terus berproduksi dan meningkatkan produktivitas.

2. Bagaimana terkait instrumen teknologi dan pembiayaan dalam pertanian?

Yang namanya pengungkit produktivitas yang pertama adalah inovasi teknologi dan sarana dan prasarana. Ada juga kebijakan peraturan perundangan, dan tak kalah penting adalah SDM pertanian, jadi pengungkit produktivitas dan pengungkit produksi itu adalah inovasi teknologi hanya bagaimana masalahnya agar inovasi teknologi itu betul-betul diimplementasikan oleh seluruh insan pertanian, praktisi, pengusaha pertanian itu yang paling penting. Sehebat apapun inovasi teknologi kalau tidak ada diimplementasikan ya tidak akan memberikan kontribusi apapun. Sebetulnya yang paling sulit adalah rekayasa sosialnya bagaimana mengubah perilaku petani dan mindset petani agar dia itu mau, dan mampu serta merasa terpanggil untuk mengimplementasikan teknologi tersebut.

3. Apakah benar jumlah petani yang terus berkurang membuat kekuatan ketahanan pangan tergerus?

Kalau tergerus itu sebenarnya tidak juga tapi memang kita harus waspada kita harus antisipasi jadi saat ini ini komposisi dari petani kita sebagian umur produktif jadi umur 40 tahun keatas petani kita itu kurang lebih 70 persen, sedangkan umur 40 tahun kebawah kurang lebih 29 persen kurang dari 30 persen. itu berarti 10 tahun kemudian umur produktif ini akan masuk ke umur yang kurang produktif artinya umur yang diatas 50 tahun yang kurang produktif apalagi di atas 60 tahun produktivitasnya pasti berkurang.

Ini menjadi tantangan kita, oleh karena itu umur milenial atau yang kurang dari 40 tahun kita sebut sebagai umur milenial atau petani milenial yang lebih ih dari 40 tahun di sebut kolonial artinya petani yang sudah tua tantangan ini bagaimana menciptakan petani-petani milenial itu sebanyak-banyaknya di saat yang sama, bagaimana kita mencetak petani milenial agar betul-betul profesional menguasai bidangnya di sektor pertanian di saat yang sama dia juga harus mampu berdaya saing. Saat ini yang namanya komoditas pertanian bukan hanya di Indonesia di seluruh negara juga diproduksi mereka sama-sama ekspor sama-sama menghasilkan. Oleh karena itu daya saing ini menjadi kata kunci.

Baca Selanjutnya: 4 Bagaimana langkah Kementan untuk...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami