Kerjasama dengan Eni Batal, Pertamina Tetap Garap Proyek Kilang Plaju

UANG | 29 Januari 2020 16:17 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) tetap menjalankan proyek kilang produsen bahan bakar ramah lingkungan atau Green Refinery di Plaju, Sumatera Selatan. Keputusan ini usai kerjasama dengan Eni SpA batal akibat kebijakan pelarangan impor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) asal Indonesia yang dikeluarkan Uni Eropa.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina akan menggarap proyek Green Refinery Plaju dengan tetap menggunakan teknologi milik UOP, perusahaan asal Amerika Serikat yang telah memiliki sertifikasi untuk produksi green diesel berbahan baku CPO.

"Akhirnya kita putus kerja sama ini, dan langsung produksi sendiri langsung dengan UOP sebagai pemilik teknologi," kata Nicke, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/1).

Untuk membangun Green Refinery, Pertamina melakukan modifikasi mesin di Kilang Plaju, dengan memanfaatkan aset yang sudah ada investasi proyek tersebut lebih hemat 40 persen. "Sehingga secara investasi juga ini akan lebih rendah dibanding mengembangkan kilang baru," tuturnya.

Menurutnya, Green Refinery direncanakan beroperasi pada 2024, dengan empat unit berkapasitas 20 ribu barel per hari per unitnya. Fasilitas menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan terdiri dari green diesel dan green avtur sebanyak 1 juta Kilo Liter per tahun.

"Yang akan kami bangun per unitnya adalah 20 ribu barel per hari kapasitasnya. Jadi nanti bisa ditambahkan per unit misalnya mau jadi 80 ya menjadi empat unit ini yang kita lakukan," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Ditegur Pemerintah Uni Eropa

Nicke mengungkapkan, Eni mendapat teguran dari Pemerintah Uni Eropa sebab sempat kekeh ingin melanjutkan kerja sama, dengan membangun fasilitas pengolahan CPO langsung di Plaju.

"Eni dapat teguran dari pemerintah, walau investasi di Indonesia tapi tetap dilawan juga," tandasnya.

Green Refinery rencananya beroperasi pada 2024 tersebut didesain dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta Kiloliter (KL) per tahun. Dengan kapasitas pengolahan CPO mencapai 20 ribu barel per hari.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Pasokan Minyak Sawit RI Hanya Cukup Hingga Program B50
Kebijakan Uni Eropa Larang Impor Minyak Sawit RI Berdampak ke Pembangunan Kilang
Penghentian Pengeboran Blok Rokan Dinilai Pengaruhi Produksi Migas RI
Orang-orang Jokowi di Lingkaran BUMN
Wali Kota Solo Siapkan Komentar Pedas Jika Subsidi Elpiji 3 Kg Dicabut
Pertamina Tunggu Aturan Pemerintah Naikkan Harga Elpiji 3 Kg

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.