Ketimpangan Dunia Saat ini Tertinggi Sejak Abad ke-19

UANG | 12 November 2019 13:42 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan Malaysia, Amiruddin bin Hamzah, menyambangi Indonesia untuk menghadiri Indonesia Sharia Economic Festival ke-6 di Jakarta. Sang datuk membahas peran ekonomi syariah di tengah ketimpangan ekonomi dan perang dagang yang terjadi di dunia.

"Hari ini, ketimpangan global sedang pada level tertinggi sejak abad ke-19. Berbagai studi terbaru menunjukan satu persen orang terkaya di dunia kini memiliki setengah kekayaan di dunia," ujar sang Wamenkeu di JCC, Jakarta, Selasa (12/11).

Selain masalah ketimpangan, Amiruddin juga membahas perang dagang yang mengancam liberalisasi dagang di dunia karena memicu sentimen proteksionisme. Padahal, menurut Amiruddin, liberalisasi dagang telah memicu pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1980-an.

Dia pun menyebut bahwa sudah saatnya mencari alternatif lain. Sistem keuangan Islami bisa menjadi solusi keuangan yang lebih sustainable serta bisa memberikan kesejahteraan.

"Keuangan Islami sudah disertai dengan tujuan-tujuan sustainable dan lebih hijau seperti yang dijelaskan Maqasid Shariah yang membutuhkan penguatan kesejahteraan rakyat melalui preservasi kekayaan, iman, kehidupan, keturunan, dan intelektualitas," ucap Amiruddin.

Keuangan syariah juga dinilainya sesuai dengan kebutuhan para regulator di seluruh dunia yang sedang membangun sistem keuangan yang lebih sustainable, bertanggung jawab secara sosial, serta berfokus pada shareholder. Keuangan syariah pun bisa meningkatkan sistem keuangan, seperti di aspek lingkungan, sosial, dan pemerintahan.

Bank Negara Malaysia pun sudah berkolaborasi dengan 12 bank agar mempromosikan sistem pelayanan keuangan yang memberikan dampak baik ke aspek lingkungan dan sosial. Tujuan-tujuan itu sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDG) dari Malaysia.

Amiruddin mengajak pelaku industri keuangan agar lebih berperan dalam meningkatkan keuangan yang lebih sustainable yang merangkul masyarakat umum, pelaku bisnis, serta pemerintah.

1 dari 1 halaman

Bank Indonesia Nilai Ekonomi Syariah Cocok Jadi Penangkal Dampak Gejolak Global

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo, menyebutkan ekonomi syariah dapat menjadi solusi yang tepat saat ekonomi global penuh ketidakpastian seperti sekarang ini. Dody menjelaskan pada saat ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan dan potensi pertumbuhan ekonomi global yang menurun, dunia mencari keseimbangan dan stabilitas baru.

Tekanan tidak hanya terjadi di negara-negara dengan fundamental ekonomi yang buruk, tetapi juga di negara-negara dengan fundamental yang masih relatif sehat seperti Indonesia.

"Ke depan, sebagai bagian dari keadaan global ini kita harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan kehidupan dalam lingkungan volatilitas yang lebih tinggi," kata dia dalam pembukaan forum 5th International Islamic Monetary Economics and Finance Conference (IIMEFC) 2019, sebagai rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11).

Jika dalam waktu dekat, tetap melanjutkan "bisnis seperti biasa", ketidaksetaraan global dipastikan akan semakin meningkat dan semakin besar. "Perlu ada solusi. Tatanan ekonomi dunia perlu diarahkan agar lebih adil, tumbuh secara proporsional dan berkelanjutan. Kegiatan ekonomi harus lebih produktif, distribusi pendapatan harus lebih inklusif. Selanjutnya, transaksi keuangan harus didasarkan pada kegiatan ekonomi riil. Semua ini mengandung prinsip ekonomi, bisnis, dan keuangan Islam," ujarnya.

Dody mengungkapkan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah adalah solusi yang memungkinkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan saat ini dan di masa depan. "Keuangan berbasis syariah dapat berkontribusi dengan mempromosikan gagasan pembagian risiko dan integrasi keuangan komersial dan sosial, yang merupakan salah satu faktor utama dalam memastikan ketahanan ekonomi dan inklusi," ujarnya.

Ekonomi dan keuangan syariah diyakini mengandung nilai-nilai yang sangat condong ke arah keadilan yang lebih besar dalam pembangunan sosial-ekonomi, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan manusia. Keuangan syariah secara konsisten mempromosikan pembagian risiko alih-alih pendekatan pembiayaan utang, yang diyakini akan meningkatkan ketahanan dan stabilitas pasar keuangan.

"Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi besar baik sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan untuk meningkatkan struktur neraca berjalan. Saat ini ekonomi syariah telah menjadi sumber pertumbuhan baru, tidak hanya di kalangan Muslim negara mayoritas, tetapi juga di negara lain di mana umat Islam bukan mayoritas," ungkapnya.

Jasa keuangan pada ekonomi syariah juga mencatat kinerja keuangan yang signifikan dalam dekade terakhir di tengah ketidakpastian ekonomi global. Fundamental industri keuangan Islam tetap kuat, dengan lebih dari USD 1,7 triliun dana kelolaan, dan sebagian besar dari 20 dana kekayaan negara terbesar terletak di negara-negara di mana Islam adalah agama utama.

Reporter: Tommy Kurnia Rony

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Baca juga:
5 Sumber Penyebab Resesi Ekonomi Bisa Muncul di Indonesia
2019, Pertumbuhan Ekonomi RI Diperkirakan Mentok di 5 Persen
Bos Bukit Asam Harap Perang Dagang AS-China Segera Usai agar Harga Batu Bara Naik
Bos BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Dunia Semakin Lambat
Kerap Bikin Resah, Perang Dagang Ternyata Justru Buat Orang Kaya Bertambah
Perang Dagang Masih Jadi Tantangan Bagi Pemerintah Jokowi Periode II
Pemerintah Fokus Jaga Konsumsi Domestik Hadapi Gejolak Ekonomi Global