Ketua OJK Beberkan Penyebab Maraknya Kasus Gagal Bayar Lembaga Keuangan

Ketua OJK Beberkan Penyebab Maraknya Kasus Gagal Bayar Lembaga Keuangan
Ketua OJK Wimboh Santoso. ©2017 merdeka.com/idris
UANG | 24 November 2020 14:16 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) angkat suara terkait maraknya kasus gagal bayar yang dialami lembaga keuangan. Hal ini bisa terjadi karena regulasi yang ada di jasa keuangan tak seketat perbankan. Selain itu, masyarakat juga cenderung tergiur dengan produk jasa keuangan yang menawarkan bunga rendah dengan imbal hasil yang tinggi.

"Di industri keuangan itu ada sektor yang tidak diregulasi seketat perbankan. Dan dia bisa mengeluarkan produk itu tanpa ada pengawasan. Masyarakat susah melihat ini, apakah itu produk perbankan atau non-perbankan," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Economic Outlook 2021: Memacu Pertumbuhan di Tengah Pandemi, Selasa (24/11).

Selain itu, Wimboh menuturkan kerap terjadi miss-selling atau penjualan produk yang tidak tepat. Sebagai contoh, dia menyebutkan ada calon nasabah mengira produk yang ditawarkan oleh jasa keuangan adalah produk bank, sehingga tertarik untuk membeli. Namun, ternyata produk tersebut adalah asuransi unitlink yang menggabungkan layanan proteksi dengan investasi.

Dia mengatakan nasabah kerap terjebak pada produk tersebut karena pemasarannya dilakukan di kantor cabang bank dengan iming-iming imbal hasil tinggi hingga lebih dari 10 persen.

"Kadang marketingnya juga pintar, dari pada ditarik lebih baik pindah ke sini, ya mau. Ini adalah unitlink, akhirnya begitu underlying-nya jeblok tidak bisa deliver bunga 10 persen, even pokoknya tidak bisa deliver," kata Wimboh.

Untuk itu, Wimboh mengaku OJK tengah memperbaiki ekosistem tersebut. Di saat bersamaan, OJK juga akan meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Untuk menghindari miss-selling, OJK juga akan mengimplementasikan market conduct. Di mana setiap produk yang dikeluarkan oleh lembaga jasa keuangan harus jelas baik dari sisi jenis produk, risiko, cara penjualan, dan sebagainya.

"Semua kami lakukan. Apalagi sekarang dengan teknologi, OJK akan melakukan reformasi berkaitan dengan proses bisnis di OJK, semua melakukan pengawasan dengan digital, semua laporan digital bahkan semua produk di-post di website dan komunikasi dengan OJK menggunakan digital," kata Wimboh.

Reporter: Pipit Ika Ramdhani

Sumber: Liputan6.com (mdk/idr)

Baca juga:
IHSG Diprediksi Bakal Kembali ke Level 6.000 dalam Waktu Dekat
OJK Perpanjang Program Restrukturisasi Kredit Hingga 2022
Bos Bank Mandiri: Perpanjangan Restrukturisasi Kredit OJK Sangat Tepat
Ketua OJK Sebut Tanda Pemulihan Ekonomi Indonesia Mulai Terlihat
Antisipasi Kredit Macet, OJK Minta Perbankan Pertebal CKPN
OJK Beberkan Keuntungan Kebijakan Restrukturisasi Kredit di Tengah Pandemi

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami