Kisah Fotografer Cilik di Tanjung Aan Lombok, Dibayar Seikhlasnya

Kisah Fotografer Cilik di Tanjung Aan Lombok, Dibayar Seikhlasnya
Fotografer Cilik di Pantai Tanjung Aan Lombok. ©2022 Merdeka.com
EKONOMI | 19 Mei 2022 14:32 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - "Mau difotoin, Kak?" tanya anak laki-laki kepada beberapa pengunjung Pantai Tanjung Aan, Lombok.

Sore itu, pengunjung Pantai Tanjung Aan memang sedang ramai. Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak kecil warga Pantai Tanjung Aan untuk mengais rezeki. Mereka biasa disebut Fotografer Cilik.

Salah satunya Rahmat, anak laki-laki berusia 16 tahun yang dengan lihai memotret salah satu pengunjung, sambil sesekali mengarahkan gaya. Tak hanya itu, dia juga kerap meminta pengunjung untuk berpindah tempat agar mendapat angle foto yang berbeda.

"Saya sudah 6 tahun jadi fotografer cilik, sejak usia 10 tahun," kaa Rahmat kepada Merdeka.com.

Dia mengaku belajar memotret dari turis asing yang dengan sukarela mengajar bagaimana cara mengambil angle foto yang bagus ke anak-anak kecil di Pantai Tanjung Aan. Fotografer cilik sepertinya sudah menjadi ciri khas tersendiri dari Pantai Tanjung Aan. Bahkan, di pantai ini terdapat 22 fotografer cilik.

"Kebanyakan fotoin turis lokal, kalau turis asing tidak banyak yang dateng kesini. Buat fotoin turis, saya selalu tawarin mereka mau difotoin apa engga. Saya engga malu kan biar dapet duit. Biasanya saya fotoin turis pake hape Samsung dan Iphone," imbuh Rahmat.

Rahmat yang masih duduk di kelas 1 SMA ini memang setiap hari menjalani profesi fotografer cilik. Meski begitu, pekerjaan ini tidak mengganggu aktivitas sekolahnya.

"Biasanya saya jadi fotografer tidak cuma pas liburan. Tapi habis pulang sekolah juga bisa langsung kerja. Biasanya wisatawan yang datang ramainya sore karena mau lihat sunset. Rumah saya juga di pinggir pantai jadi gampang. Saya juga biasanya kerja di Bukit Merese," jelasnya.

2 dari 2 halaman

Dampak Pandemi

kisah fotografer cilik di tanjung aan lombok, dibayar seikhlasnya

Sayangnya, sejak pandemi, tidak ada wisatawan yang datang ke pantai ini. Baru setelah Lebaran tahun ini sudah mulai banyak wisatawan yang datang.

"Sebelum pandemi per hari bisa dapat sampai Rp100.000. tapi sejak pandemi sudah sepi. Sudah setahun sepi tidak ada wisatawan. Mulai ramainya juga baru-baru ini setelah puasa. Sejak mulai ramai saya bisa dapat Rp50.000 per hari. Belum seperti dulu tapi sudah ada pemasukan," katanya.

Uang yang didapat pun dia gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah. Dia mengaku, tidak pernah memberikan tarif saat memotret wisatawan. Para fotografer cilik ini sepakat untuk memberikan tarif seikhlasnya kepada wisatawan.

"Pernah juga ada pengunjung yang tidak bayar setelah saya foto. Tapi saya tidak apa-apa. Seikhlas mereka saja," kata Rahmat sambil tersenyum.

Salah satu pengunjung, Cahya mengaku sangat terbantu dengan adaya fotografer cilik. Dengan pengalaman yang mereka miliki, maka foto yang dihasilkan bisa terlihat bagus.

"Mereka juga sudah tahu angle foto yang bagus jadi kita bisa enak tinggal gaya. Enggak usah kita arahin lagi, malah dia yang ngarahin kita. Mereka juga sabar kalau kita minta tambah mau foto lagi," kata Cahya diwawancara terpisah.

(mdk/azz)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami