Kondisi Ekonomi Afghanistan: Inflasi Meroket dan Sektor Perbankan Nyaris Tumbang

Kondisi Ekonomi Afghanistan: Inflasi Meroket dan Sektor Perbankan Nyaris Tumbang
Anggota Taliban berjaga di area luar Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan.. ©Reuters
EKONOMI | 29 September 2021 08:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sistem perbankan di Afghanistan mendekati kondisi yang buruk dan nyaris runtuh. Hal itu diungkapkan oleh pimpinan salah satu pemberi pinjaman terbesar negara itu kepada BBC.

Dikutip dari BBC, Kepala Eksekutif Islamic Bank of Afghanistan, Syed Moosa Kaleem Al-Falahi mengatakan bahwa industri keuangan negara itu berada dalam cengkeraman krisis eksistensial karena kepanikan di antara nasabah.

"Ada penarikan besar-besaran yang terjadi saat ini," kata Al-Falahi, yang berbicara dari Dubai - tempat dia tinggal sementara karena situasi di Kabul.

"Hanya penarikan yang terjadi, sebagian besar bank tidak berfungsi, dan tidak memberikan layanan penuh," tambahnya.

Diketahui bahwa ekonomi Afghanistan sudah goyah bahkan sebelum Taliban mengambil alih kendali negara tersebut pada Agustus 2021.

Ditambah lagi, Afghanistan sangat tergantung pada bantuan asing atau sekitar 40 persen dari produk domestik bruto (PDB) berasal dari bantuan internasional, menurut Bank Dunia.

Tetapi sejak pengambilalihan Taliban, negara-negara Barat telah membekukan dana internasional, termasuk aset yang dapat diakses Afghanistan dengan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut Al Falahi, masalah ini mendorong Taliban mencari sumber lain untuk dukungan keuangan. "Mereka menantikan China dan Rusia, dan beberapa negara lain juga," sebut Al Falahi.

"Sepertinya cepat atau lambat mereka akan berhasil berdialog," katanya.

Laporan surat kabar China, Global Times mengatakan ada potensi besar untuk kerja sama dalam membangun kembali Afghanistan. Namun, Taliban berada di bawah tekanan untuk memperbaiki masalah ekonomi Afghanistan sekarang.

2 dari 2 halaman

Inflasi Melonjak

Angka inflasi melonjak di Afghanistan, dan mata uang negara di sana juga anjlok. Sejumlah besar warga juga banyak yang kehilangan pekerjaan dan kekurangan uang.

Program Pangan Dunia PBB telah memperingatkan bahwa hanya 5 persen rumah tangga di Afghanistan yang cukup makan setiap hari. Setengah dari mereka yang disurvei mengatakan mereka kehabisan makanan setidaknya sekali dalam dua pekan terakhir.

Jadi mengakses dana internasional dan bantuan asing adalah kunci untuk kelangsungan hidup Afghanistan.

Tetapi negara-negara seperti AS telah mengatakan bahwa sementara mereka bersedia mempertimbangkan untuk bekerja dengan Taliban akan tergantung pada beberapa prasyarat, termasuk perlakuan rezim mereka terhadap perempuan dan minoritas.

Al Falahi menegaskan, meskipun pernyataan Taliban yang mengatakan bahwa perempuan tidak diizinkan untuk bekerja untuk sementara, tetapi perempuan sudah bisa bekerja di bank.

"Ada semacam ketakutan di antara para perempuan, mereka tidak datang ke kantor, tetapi sekarang secara bertahap mereka mulai datang ke kantor," ungkapnya.

Komentar Al Falahi juga diselingi dengan pernyataan baru-baru ini oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan BBC, Khan mengatakan bahwa Taliban sedang mencoba untuk menunjukkan sikap yang lebih modern dan direformasi kepada dunia, dibandingkan dengan bagaimana mereka berperilaku terakhir kali mereka berkuasa - semacam Taliban 2.0.

"Saat ini mereka lebih fleksibel, mereka sangat kooperatif," kata Khan.

"Mereka tidak memaksakan aturan dan regulasi yang ketat untuk saat ini," imbuhnya.

Reporter: Natasha Khairunisa Amani

Sumber: Liputan6.com(mdk/idr)

Baca juga:
Mengundurkan Diri, Perwakilan Afghanistan Tidak Berpidato di Sidang Umum PBB
Negaranya Miskin, Tapi Afghanistan Kaya Sumber Daya Alam dari Emas Sampai Lithium
Taliban: Bandara Kabul Siap untuk Penerbangan Internasional
Italia Tolak Akui Pemerintahan Taliban di Afghanistan
Taliban Larang Tukang Pangkas Rambut Cukur Jenggot, Putar Lagu
Taliban Larang Anggotanya Berswafoto di Tempat Wisata
Sadis, Taliban Gantung Mayat Penculik di Alun-Alun Kota

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami