Konektivitas & Kapasitas Jadi Kunci Negara ASEAN Bisa Menuju Era Ekonomi Baru

UANG | 18 Juni 2019 16:31 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Reserach Office (AMRO) menyebut kawasan ASEAN harus membangun konektivitas dan kapasitas untuk menuju era New Economy atau ekonomi baru.

Chief Economist AMRO, Hoe Ee Khor mengatakan, membangun kapasitas dan konektivitas akan menjadi prioritas bagi kawasan ASEAN+3 untuk menuju era ekonomi baru dan memulai fase pertumbuhan ekonomi selanjutnya setelah selama ini telah mencapai trend pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Kawasan secara keseluruhan telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam dua dekade terakhir melalui strategi manufaktur untuk ekspor yang menjadi pilar utama di sebagian besar negara kawasan," kata dia di Gedung BI, Jakarta, Selasa (18/6).

Dia menjelaskan, saat ini peningkatan teknologi di kawasan telah terjadi secara tidak merata, sementara transformasi ke sektor jasa tidak dapat dihindari, sehingga hal tersebut membutuhkan pemikiran mendalam dalam menentukan kapasitas dan konektivitas yang diperlukan. Namun, investasi yang rendah merupakan permasalahan utama di kawasan yang jika tidak ditangani dengan baik akan mengganggu pertumbuhan lebih lanjut.

Dia mengungkapkan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menentukan prioritas pengembangan kapasitas dan konektivitas kawasan dalam jangka pendek menengah. Pertama, teknologi atau Revolusi Industri 4.0 yang membawa pengembangan teknologi menuju otomatisasi. deindustrialisasi dan kebangkitan sektor jasa.

"Kedua, populasi yang semakin menua dan masyarakat kelas menengah yang tumbuh pesat akan menjadi dasar terjadinya pergeseran menuju kapasitas produktif yang lebih hemat tenaga kerja namun lebih didasarkan pada keterampilan dan pengetahuan. Ini juga dapat memacu permintaan barang dan jasa intra-kawasan dan kebutuhan akan konektivitas yang lebih baik," ujarnya.

Selanjutnya, faktor Ketiga adalah proteksionisme dunia barat ditambah dengan peningkatan kesejahteraan kawasan dan penguatan permintaan akhir, akan menjadi faktor pendorong sekaligus penarik integrasi kawasan.

Negara-negara berkembang di kawasan menghadapi tantangan yang kompleks dalam melakukan investasi jangka panjang khususnya di bidang-bidang yang tidak bersifat ekonomis. Jenis investasi tersebut termasuk infrastruktur publik, sumber daya manusia, dan hal tak berwujud lainnya yang berpotensi meningkatkan produktivitas nasional.

"Pertumbuhan ekonomi yang cepat di kawasan ASEAN+3 akan mendorong permintaan infrastruktur baru dan memperbesar kesenjangan investasi. Perubahan iklim menempatkan negara negara dengan infrastruktur terbatas pada risiko pelemahan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ujarnya.

Dia melanjutkan, terdapat tiga kesenjangan utama dalam membangun kapasitas dan konektivitas di kawasan, yakni kesenjangan pendanaan, devisa, dan faktor non-keuangan.

Kesenjangan pendanaan adalah ketimpangan antara kebutuhan investasi (termasuk infrastruktur publik) dan tabungan domestik yang tersedia. Kesenjangan devisa menggambarkan kendala pembiayaan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dalam memenuhi kebutuhan akumulasi cadangan devisa guna memitigasi risiko arus keluar modal asing yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Kesenjangan non keuangan mencakup ketimpangan kemampuan untuk melaksanakan proyek infrastruktur (ketika pembiayaan telah tersedia), seperti manajemen proyek yang efektif, ketersediaan tenaga kerja, serta keahlian dan teknologi yang diperlukan.

"Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, kawasan perlu memanfaatkan investasi intra ASEAN+3, dan mengandalkan jaring pengaman keuangan regional sambil mengembangkan keahlian profesional, teknologi, dan kemampuan institusional," ujarnya.

Terdapat peluang bagi ASEAN+3 untuk melakukan investasi jangka panjang guna meningkatkan kapasitas dan konektivitas kawasan. Negara-negara berkembang ASEAN+3 juga perlu terus belajar dari pengalaman negara-negara maju yang masih berperan sebagai pendorong utama investasi di bidang transfer teknologi dan peralihan menuju era ekonomi baru di kawasan Chiang Mai Initiative Multilateralizalion (CMIM) merupakan sumber daya kawasan yang berperan sebagai jaring pengaman keuangan bagi negara-negara kawasan ASEAN+3.

"Keragaman tingkat pengembangan sumber daya manusia, keahlian dan teknologi di kawasan memberikan ruang untuk kerjasama dan kolaborasi yang lebih erat dalam rangka memenuhi kesenjangan faktor non keuangan di kawasan, serta mengoptimalkan penyebaran dan manfaat dari sumber daya yang langka di kawasan. Secara khusus, kawasan perlu mendorong berbagai inisiatif untuk mempererat integrasi dan konektivitas kawasan," tutupnya.

Baca juga:
Skenario Buruk Dampak Perang Dagang Terhadap Negara ASEAN, Termasuk Indonesia
Volatilitas Keuangan di Asia Meningkat, RI dan Filipina Paling Terdampak
2019, Pertumbuhan Ekonomi dan Siklus Bisnis di ASEAN Mengalami Perlambatan
Pemerintah Gandeng Inggris Kembangkan Pembangunan Rendah Karbon
Bos BKPM Yakin Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Gejolak Perang Dagang
Menhub Sebut Bandara Kertajati Jadi Alat Pencipta Kekuatan Ekonomi Baru Utara Jabar

(mdk/idr)