Konsesi Masih Dikuasai Chevron, Transisi Blok Rokan Sulit Dilakukan

UANG | 29 Januari 2020 20:35 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina belum bisa masuk ke Rokan, sebab secara hukum peralihan operator baru bisa dilakukan setelah kontrak Chevron habis pada Agustur 2021. Hal ini membuat perusahaan migas nasional tersebut kesulitan untuk melakukan transisi.

"Karena secara hukum kita memang baru akan melakukan pengelolaan pada agustus 2021, konsesinya masih dimiliki Rokan saat ini," kata Nicke, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/1).

Menurutnya, rencana pengeboran 20 sumur untuk menahan laju penurunan produksi di Rokan masih tertahan, sebab masa transisi belum diterapkan. "Ini (pengeboran 22 sumur) tergantung nanti kita akan melakukan masa transisi tentu dengan pemerintah," ujarnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menambahkan, saat ini Pertamina sedang melakukan diskusi dengan Chevron agar bisa diberikan kesempatan untuk melakukan transisi dan melakukan kegiatan pengeboran, sebelum masa kontrak habis pada Agustus 2021.

"Pada intinya bahwa Pertamina terus melakukan diskusi proaktif ke Chevron. Untuk transisi secara smooth, diskusi terkait hal teknis. Misal pengeboran dan data yang bisa disampaikan," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Produksi Minyak Blok Rokan Terjun Bebas

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan, produksi minyak Blok Rokan merosot hingga 20.000 barel per hari, akibat tidak adanya investasi pengeboran tidak dilakukan sejak 2018.

"Karena tidak ada investasi pengeboran yang terjadi 2018-2019 lifting turun 20.000 barel per hari, cukup besar pengaruhnya," kata Dwi di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (9/1).

Dwi mengungkapkan, transisi antara Pertamina sebagai operator Rokan setelah kontrak Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada 2021 sangat penting agar Pertamina bisa lebih cepat melakukan kegiatan pengeboran untuk menjaga tingkat produksi.

"Transisi rokan isu penting, kalau Rokan transisi tidak bisa terselesaikan dengan baik liftingnya yang jadi masalah utama Indonesia," tuturnya.

Awal tahun 2019, produksi Blok Rokan mencapai 207.000 barel per hari (bph) atau setara dengan 26 persen produksi nasional. Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan, di mana tiga lapangan berpotensi menghasilkan minyak sangat baik yaitu Duri, Minas dan Bekasap.

Tercatat, sejak beroperasi 1971 hingga 31 Desember 2017, total produksi di Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak sejak awal operasi.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com (mdk/azz)

Baca juga:
Tahan Penurunan Produksi Blok Migas Tua, Pertamina Bor 411 Sumur di 2020
Menteri Arifin Buka-bukaan Masalah Lifting Minyak, Diramal Cuma 743.000 Bph di 2024
Menteri Sri Mulyani Pesimistis Target Lifting Migas 2020 Tercapai, ini Alasannya
Penghentian Pengeboran Blok Rokan Dinilai Pengaruhi Produksi Migas RI
Jadi Komisaris Utama PGN, Arcandra Tahar Fokus Pemanfaatan Gas Bumi
Pertamina Beberkan Alasan Lifting Migas Tak Capai Target di 2019

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.