LPEI Terima Penugasan Khusus Ekspor Rp 2,7 Triliun

UANG | 15 November 2018 17:25 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank telah menerima sebanyak lima Penugasan Khusus Ekspor (PKE) dengan total alokasi dana sebesar Rp 2,7 triliun di 2018 ini.

Adapun kelima PKE tersebut adalah ekspor gerbong kereta api ke Bangladesh, fasilitas pembiayaan kepada UKM supplier eksportir dalam rangka ketahanan usaha, ekspor gerbong barang dan penumpang ke Bangladesh dan Srilanka, ekspor pesawat udara ke Thailand, Nepal, Uni Emirat Arab, dan negara di Kawasan Afrika, serta ekspor komoditas ke Kawasan Afrika.

Direktur Eksekutif LPEI, Shintya Roesly mengatakan, pembiayaan yang dikucurkan pihaknya cukup membantu BUMN ketika menghadapi kendala saat melakukan ekspansi usahanya, terutama ke pasar prospektif. Sinergitas ini akan membuat mitra Indonesia di pasar prospektif semakin luas.

"Jika lembaga pembiayaan dan pelaku ekonomi seperti BUMN mampu membangun hubungan yang baik, maka bisa mendapatkan ekonomi yang kuat, tahan goncangan dari kondisi perekonomian global," kata Shintya dikutip merdeka.com dari keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10).

Di sisi lain, Menteri Keuangan juga telah mendorong agar LPEI dapat bekerja lebih keras, berinovasi dan berkolaborasi dengan para stakeholders termasuk BUMN dalam rangka meningkatkan ekspor.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga terus mendorong ekspor dengan catatan, kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi. Seperti yang dilakukan PT Pupuk Indonesia (Persero) yang belum lama ini kembali melakukan ekspor melalui anak usahanya yaitu PT Pupuk Kalimantan Timur. Kali ini, Pupuk Kaltim mengekspor 21.600 ton pupuk urea ke Filipina dan 3.500 ton amonia ke Vietnam.

"Ekspor produk BUMN di bidang industri strategis juga didorong untuk meningkat. Adapun BUMN strategis yang pada tahun ini berkomitmen untuk mengekspor produknya yakni PT Pindad (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Industri Kereta Api/INKA (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero)." (mdk/azz)

Baca juga:
Bank Indonesia Catat Defisit Transaksi Berjalan Triwulan III Naik Jadi 3,37 Persen
Ini Sebab Sektor Migas Akan Terus Sumbang Defisit Transaksi Berjalan Versi SKK Migas
Anggur Hingga Kapal Penyelamat Penyebab Impor Oktober Meningkat
Atasi Defisit Neraca Perdagangan, Menteri Jonan Minta RI Tiru Jepang
BPS Catat Impor Oktober Capai USD 17,62 M, Naik Akibat Sektor Migas

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.