Mafia Penyaluran BPNT Bisa Untung Rp9 Miliar per Bulan

UANG | 23 September 2019 12:45 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, keuntungan praktik mafia dalam kegiatan ‎penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)‎ mencapai triliunan rupiah. Praktik tersebut dilakukan secara terstruktur, bahkan melibatkan oknum kelas kakap.

"Kenapa ini terjadi karena ada mafianya. Kita akan ungkap sampai yang besar karena tidak mungkin cere-cere karena nilainya triliunan," kata Budi, di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (23/9).

Dia menjelaskan, dari total penyaluran BPNT untuk masyarakat miskin oleh pemerintah sebesar sampai Rp20 triliun, terjadi penyimpangan dana sebesar Rp5 triliun. Khusus untuk distributor atau penyalur paket beras dan telur program BPNT, setiap bulannya bisa mendapat ‎Rp9 miliar dari hasil praktik mafia tersebut.

"Kurang lebih yang disimpangkan Rp5 triliun lebih, jadi 1/3-nya disimpangkan. Apalagi pak presiden ingin menambah menjadi Rp60 triliun berapa banyaknya uang dikorupsi. Rp9 miliar itu dari penyalur hampir rata-rata dalam satu bulan untuk BPNT yang dia kuasai," tuturnya.

Dengan demikian, praktik mafia penyaluran BPNT akan segera diungkap dengan melibatkan satgas pangan dan kepolisian. Sebab, kegiatan ini sudah berjalan lama untuk keuntungan individu dan kelompok, sehingga merugikan masyarakat yang berhak menerima dan negara.

"Dalam penyaluran BPNT masalah besar di situ ada ajang permainan sudah berjalan bertahun-tahun‎," jelasnya.

Budi menyebutkan sejumlah temuan ‎yang dimainkan mafia dalam kegiatan penyaluran BPNT, yaitu penipuan penyaluran beras kualitas medium yang dibungkus dengan kantung beras premium, hal ini bertujuan agar beras medium yang disalurkan dijual dengan harga premium.

‎"Ini satu bentuk wujud nyata, beras disetor ke BPNT beras ini bukan premium tapi medium, kita menerima beras dengan harga premium sehingga jatahnya sedikit," tutur Budi.

Temuan lain adalah pemaksaan terhadap masyarakat untuk menerima beras dengan kualitas buruk, jika tidak maka diancam akan dihapus dari daftar penerima BPNT.‎ Selain itu, jumlah beras yang diterima masyarakat juga tidak sesuai dengan ketentuan.

‎"Saudara kita penerima BPNT 10 Kg ini disunat maksimal 7 kg,‎" ujarnya.

Menurutnya, selain permainan dilakukan pada beras, mafia juga melakukan permainan pada penyelenggaraan penyaluran beras melalui E-Warong. Dia bersama tim menemukan E-Warong abal-abal yang hanya buka saat penyaluran BPNT.

‎"Harga jual beras suplayer, belum nanti ada E-Warong siluman tambal ban bisa jadi E-Warong. Saya tidak sembarang ngomong, sudah saya buktikan, jadi ada tambal ban melayani penyaluran BPNT, ada kios tidak jelas siluman," jelasnya.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Bos Bulog Tak Yakin Bisa Serap 1,8 Juta Ton Beras di 2019
Budi Waseso: Bulog Punya Utang Rp28 Triliun
Bulog Datangkan Sisa 18.000 Daging Kerbau Impor Secara Bertahap
Bos Bulog Beberkan Modus Mafia Penyaluran BPNT
Budi Waseso Minta KPK Kerjasama Tangani Mafia Penyaluran BPNT
Impor Daging Sapi Brasil Masih Terkendala Proses Administrasi

(mdk/azz)