Margin layanan data terus membaik, saham emiten telekomunikasi layak dikoleksi

UANG | 28 September 2018 15:53 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Sektor telekomunikasi tetap dianggap atraktif untuk berinvestasi seiring terus membaiknya margin layanan data dan potensi pertumbuhan jangka panjang yang ditawarkan bisnis ini bagi investor.

Mengutip riset analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Giovanni Dustin pada 28 September 2018, terungkap operator telekomunikasi di Indonesia belum melakukan perubahan tarif data setelah melakukan koreksi sejak sejak Juli 2018.

Telkom melalui Telkomsel terlihat berusaha mempertahankan yield yang tinggi dari layanan data. Untuk layanan Telkomsel Flash 1Gb Effective data yield (Rp/GB) sebesar Rp 55.000. Indosat untuk 5 Gb sebesar Rp 13.000, dan XL Axiata Rp 11.800.

Telkomsel telah menaikkan tarif datanya sejak Juli lalu sekitar 4-11 persen. Sementara Indosat setelah Idul Fitri merevisi tarif datanya bervariasi mulai 4 persen, 15 persen, 25 persen, hingga 40 persen tergantung jenis paket data yang dipilih pelanggan. Tantangan bagi Indosat adalah kualitas jaringannya, karena banyak menawarkan paket unlimited yang bisa membebani kinerja dalam akses data bagi pelanggan.

Saat ini Indonesia belum masuk ke tahap jenuh dalam konsumsi layanan data di mana. Kami melihat strategi 'bermacam tarif data' dikisaran 30 persen yang ditawarkan Telkomsel bisa menjaga basis data pelanggannya.

"Kami percaya bahwa peningkatan data yield saat ini lebih didasarkan pada 'itikad baik/good faith' antar operator, karena semua operator ingin registrasi SIM Card menjadi sukses dan bermanfaat untuk jangka panjang. Akan tetapi, apabila peraturan registrasi tidak diperketat, kami melihat adanya kemungkinan registrasi SIM card gagal membawa perubahan jangka panjang dan persaingan akan kembali seperti sebelumnya," ulasnya.

Mengingat ketidakpastian yang tinggi, investor disarankan memilih saham milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), karena emiten ini menawarkan karakteristik saham defensif (fundamental kuat, risiko rendah), tetapi tetap dibarengi dengan potensi pertumbuhan yang tinggi.

Diperkirakan Telkom akan mengalami peningkatan marjin Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) pada semester kedua 2018 didorong oleh pemulihan hasil data dan stabilisasi pertumbuhan biaya. Secara keseluruhan, diperkirakan marjin EBITDA TLKM untuk stabil pada tingkat pertengahan 40 persen dalam tiga tahun ke depan.

Salah satu kunci keberhasilan meningkatkan EBITDA adalah kemampuan manajemen mengendalikan sebagian besar komponen biaya tetap, biaya operasi dan pemeliharaan.

Saham Telkom sendiri di akhir Agustus 2018 ditutup di kisaran Rp 3.490 per lembar dan 27 September 2018 ditutup di 3.580.

Baca juga:
Anak usaha Telkom ungkap rencana akuisisi terhadap tiga perusahaan
Inilah besaran gaji kalau jadi direktur di perusahaan negara Indonesia
Telkom lakukan digitalisasi pom bensin Pertamina
Menteri Rini harap Pertamina dan Telkom percepat digitalisasi SPBU
Sambangi rumah pensiun Telkom, Menteri Rini minta BUMN tak lupa keluarga sendiri
Begini cara kerja sistem digital bekerja di SPBU Pertamina

(mdk/idr)