Masih Berusia 14 Tahun, Remaja Ini Raup Ratusan Juta dari Bisnis Lilin

UANG | 11 September 2019 07:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Mayoritas remaja zaman sekarang menghabiskan hari-harinya untuk sekolah dan bermain bersama teman-teman. Tapi berbeda dengan Charlie Griffiths, dia justru sudah mulai berbisnis sejak usia 12 tahun. Bisnis yang ia bangun adalah membuat lilin. Selama dua tahun, bisnisnya berkembang pesat ke sektor lain dan mampu menghasilkan ribuan pound sterling setiap tahun.

Berawal dari lilin, kini Charlie membangun perusahaan dengan menjual peralatan rumah tangga, pakaian anak- anak, dan celana panjang. "Aku selalu tertarik memulai bisnisku sendiri," jelas Charlie yang dikutip di The Sun, Selasa (10/9).

"Saya memutuskan untuk mulai berbisnis lilin setelah saya membaca semua hal-hal buruk tentang mereka (lilin) dan saya ingin membuat beberapa yang ramah lingkungan," jelas dia.

Berawal dari hal tersebut, dia membuat sebuah perusahaan yang membuat lilin. Namun lilin yang dia buat lain. Dia mendesain ulang dan memastikan bahwa bahan yang terkandung bebas dari zat-zat berbahaya.

Harga lilin berbeda-beda tergantung pada bau dan kemasan. Tetapi jika digambarkan, harga lilin yang dia jual di kisaran 9 pounds atau Rp156 ribu hingga 12 pounds atau Rp209 ribu (1 pound sterling = Rp17.426).

Bisnisnya saat ini menjual sekitar 250 produk per tahun dan memberikannya omzet tahunan sekitar 10 ribu pounds setara dengan Rp174 juta.

1 dari 2 halaman

Hari-hari Charlie

Charlie mengaku menjalankan bisnisnya di waktu luangnya. Walaupun tentu saja hal itu membuat Charlie menjadi tidak punya banyak waktu luang.

"Aku pulang dari sekolah dan mengerjakan PR-ku dulu dan setiap waktu senggang aku persembahkan untuk berbisnis," jelas Charlie.

Hal tersebut menurutnya termasuk berurusan dengan permintaan dan pemasok pelanggan. Mengunjungi pameran dagang serta mengemas barang untuk dikirim.

2 dari 2 halaman

Awal Bangun Bisnis

Charlie memulai bisnisnya di kamar tidurnya. Untungnya bisnisnya berjalan dengan baik sehingga dia berkembang dari kamar tidur menjadi kantor di dalam rumah.

"Saya mulai di kamar saya, tetap sekarang memiliki ruang kecil untuk bekerja, serta beberapa rak untuk penyimpanan," kata Charlie.

Orang tuanya juga mendukung dan membantu ketika Charlie membutuhkan. Seperti menemaninya dalam melakukan perjalanan ke pameran dagang. Seperti kebanyakan bisnis pada umumnya, bisnisnya juga kerap mendatangkan masalah.

"Sebagian besar menyenangkan. Ada beberapa pelanggan sesekai marah, tapi ya hanya itu," ungkap Charlie.

Untuk saat ini Charlie tidak memiliki rencana untuk melepaskan bisnisnya, malah dia ingin menambahkan ranah bisnisnya menjadi toko pop- up.

Reporter: Chrismonica

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Berawal Bujuk Anak, Lia Sukses Kembangkan Bisnis Jus Sayuran
Bisnis Tak Disengaja, Omzet Kerajinan Dewi Kini Raup Rp5 Juta per Bulan
VIDEO: CEO JNE, Putra Mahkota di Medan Perang Bisnis Ekspedisi
Kisah Sukses Muhammad Feriadi, Berambisi Bawa JNE Rajai Bisnis Pengiriman RI
Berawal Hobi, Disyon Toba Sukses Dirikan Consina Bermodal Rp 50.000
Deretan Kota Terbaik di Dunia untuk Pengusaha Wanita, Jakarta Peringkat Berapa?

(mdk/idr)