Menengok Dampak Lingkungan akibat Tumpahan Minyak Pertamina di Karawang

UANG | 16 September 2019 14:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Insiden tumpahnya minyak milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, Jawa Barat berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan dan bisnis. Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo), yang mengelola 60 hektare tambak udang di sana, mengakui terkena dampak kejadian ini.

Meski total kerugiannya belum terhitung, yang jelas saat ini Perum Perindo sedang berupaya melakukan mitigasi agar produksi terus berjalan sesuai target.

"Jadi sekarang kami stop memasok air laut untuk tambak udang, kita pakai reservoir persediaan dan air tawar. Kita gunakan closed system," ujar Direktur Utama Perum Perindo, Risyanto alias Aris di Jakarta, Senin (16/9).

Aris mengakui, tambak udang yang menggunakan air laut akan lebih baik produktivitasnya. Namun hal ini dilakukan demi melindungi tambak udang itu sendiri.

Sementara, Perum Perindo sendiri memperkirakan tiap hektare tambak bisa menghasilkan 10 ton udang vaname. Artinya jika panen sukses, maka perusahaan bisa mendapatkan 600 ton udang dari 60 hektare lahan.

Aris menyebut bahwa Pertamina sudah melakukan langkah yang tepat dengan bergerak cepat membersihkan tumpahan minyak ini. Namun, pembersihan minyak butuh waktu bertahun-tahun sehingga Aris lebih memikirkan dampak jangka panjangnya.

"Kita lebih hati-hati ya, kita hitung dampak lingkungannya, kemudian mengurangi kapasitas per sub blok, kita hitung terus," tuturnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
DPR Rapat Tertutup Bahas Kebocoran Sumur Minyak Pertamina di ONWJ
Lumba-Lumba di Pantai Pelangi Karawang Mati, Diduga Akibat Tumpahan Minyak
Tumpahan Minyak Pertamina Sebabkan Bau Menyengat dan Tembok Rumah Warga Menghitam
Pemprov DKI Kesulitan Bersihkan Ceceran Minyak Pertamina di Kepulauan Seribu
Pembayaran Kompensasi Tumpahan Minyak Molor, Ini Alasan Pertamina
Pertamina Target Sumur Bocor di Pantai Utara Bisa Ditutup Oktober 2019

(mdk/idr)