Menengok Dampak Mahalnya Harga Minyak Dunia ke Ekonomi Indonesia

Menengok Dampak Mahalnya Harga Minyak Dunia ke Ekonomi Indonesia
Ilustrasi Migas. istimewa ©2019 Merdeka.com
EKONOMI | 20 Juli 2022 16:31 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menilai, Indonesia cenderung masih aman dari ancaman krisis ekonomi yang mengancam. Namun, dia tak mau menutup diri, kenaikan harga minyak dan gas dunia tetap berpengaruh banyak terhadap kegiatan ekonomi domestik.

Utamanya yang dipicu akibat konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang terus berlarut.

"Menurut saya indonesia tidak krisis. Bahwa kita harus berhati-hati iya, karena itu respons kita terhadap ekonomi global akibat perang Ukraina dan Rusia," ujar Bahlil di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta, Rabu (20/7).

Bahlil tidak mau menutup mata, masalah utama yang dihadapi negara akibat perang Rusia-Ukraina saat ini memang kenaikan harga minyak dunia.

"Problem kita memang adalah persoalan minyak. Kita itu punya kapasitas produksi cuman 705.000 barel per day, konsumsi kita 1,5 juta. Sekarang, harga minyak dunia di atas USD 100 per barel. Asumsi di APBN kita kurang lebih USD 68-70 per barel," paparnya.

Otomatis, kondisi ini mengganggu harga BBM yang dikeluarkan PT Pertamina (Persero). Bahlil bahkan tidak bisa memperkirakan, seberapa kuat pemerintah bisa menanggung subsidi untuk sejumlah jenis BBM seperti Pertalite yang harga keekonomiannya terus melonjak.

"Kalau kita tidak hati-hati, maka kita akan tekor dalam melakukan subsidi terhadap selisih harga BBM. Bahkan dalam beberapa kajian yang kami lakukan, kalau harga minyak dunia tidak turun dari USD 100, maka subsidi kita siap-siap bisa lebih dari Rp400 triliun. Ini berdampak pada kondisi yang tidak menguntungkan kita," ungkapnya.

Komoditas energi lain semisal gas juga mau tak mau turut terkena imbasnya. Pemerintah telah menggelontorkan anggaran tak kalah sedikit untuk mensubsidi barang semisal LPG 3 kg.

"Gas kita impor per tahun sekitar 6 juta ton, dan subsidi kita per tahun lebih dari Rp 70 triliun. Ini harus kita pikirkan bersama-sama," tegas Bahlil.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com (mdk/idr)

Baca juga:
Harga Minyak Dunia Terperosok Tajam, Kini Berada di di Bawah USD 100 per Barel
Harga Pertamax Hingga Shell Diproyeksi Masih Mahal Hingga 2023
Waspada, BPS Catat Harga Minyak dan Pangan Dunia Masih Dalam Tren Naik
ICP Mei 2022 Naik Dipengaruhi Uni Eropa Embargo Minyak dari Rusia
Kenaikan Harga Komoditas Dunia, Simalakama untuk Indonesia
Harga Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi dalam 2 Bulan Terakhir, Ini Pemicunya

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini