Meneropong Cuan Ekonomi Digital Indonesia di Masa Depan

Meneropong Cuan Ekonomi Digital Indonesia di Masa Depan
UANG | 30 Oktober 2020 06:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pandemi di Indonesia mempercepat laju digitalisasi. Bisnis yang awalnya menjunjung tinggi model tradisional atau offline terpaksa banting setir ke online demi bertahan melawan dampak pandemi.

Keberhasilan usaha di tengah pandemi dirasakan oleh Gojek. Sebagai unicorn pertama di Indonesia, Gojek telah mengumpulkan sebanyak Rp 17.000 triliun (setara USD 1,2 miliar) yang berasal dari investor seperti Facebook dan PayPal. Gojek kerap berusaha untuk memasuki pasar yang tumbuh cepat.

Dengan operasi yang saat ini menjangkau Vietnam, Singapura, Thailand, dan FIlipina, CB Insights menyatakan bahwa valuasi Gojek mencapai USD 10 miliar. Sejak didirikan pada 2009, Gojek sebelumnya hanya berputar di perusahaan transportasi. Namun, kini Gojek telah mengembangkan segala layanannya dengan menawarkan 20 layanan berbeda, dari hiburan sampai pesan antar, bahkan menjadi platform pembayaran digital melalui GoPay.

Adapun reputasi Gojek di Indonesia bukanlah sebagai sebuah perusahaan monopoli, karena mereka memiliki saingan aplikasi sejenis asal Singapura bernama Grab. Menurut Crunchbase, Grab sendiri telah mengumpulkan lebih dari USD 1 miliar pada tahun ini.

Kedua perusahaan tersebut sering diberitakan akan menyatu. Menurut laporan dari Forbes, penyatuan kedua perusahaan dapat membantu menghentikan 'bocornya' keuangan mereka. Bahkan, baru-baru ini, pendiri Softbank Group, salah satu investor besar Grab, Masayoshi Son mendukung adanya merger.

Tak hanya Gojek dan Grab, beberapa perusahaan marketplace seperti Shopee juga mengalami laju perubahan yang semakin cepat seiring persaingan yang mengguncang e-commerce. Persaingan ditandai dengan adanya Tokopedia dan BukaLapak yang berada di urutan kedua dan ketiga, bersamaan dengan Lazada gubahan Alibaba di urutan keempat. Selama periode ini, Shopee melihat adanya peningkatan pesanan rata-rata harian mencapai lebih dari 130 persen.

Sekitar tiga tahun lalu, studi dompet digital Google/GFK mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan pasar uang elektronik potensial. Potensi tersebut tentunya dilihat dari bagaimana pelaku pasar saat ini dan tingkat penerimaan perusahaan e-commerce yang mengesankan.

Mengutip dari Forbes, iPrice dan App Annie mengatakan bahwa penggunaan aplikasi keuangan di Indonesia tumbuh sebanyak 70 persen selama 12 bulan (dihitung dari Juni tahun lalu ke tahun ini). Terlebih, penggunaan dompet elektronik saat ini menjadi metode pembayaran pilihan kala pandemi.

Kemunculan perkembangan fintech lewat uang elektronik juga dicerminkan melalui riset Ipsos Media, firma riset pasar, yang menemukan bahwa GoPay memiliki pangsa pasar tertinggi, yaitu 60 persen, diikuti oleh OVO, yang merupakan afiliasi dari konglomerat multinasional Indonesia, Lippo yang sebesar 29 persen. Adapun, OVO bermitra dengan raksasa e-commerce Tokopedia dan Grab sebagai fitur pembayaran di aplikasi tersebut.

Melansir laporan Forbes, persaingan semakin panas dengan munculnya e-wallet yang juga menawarkan potongan harga kepada konsumen. Pertarungan uang elektronik juga diikuti oleh ShopeePay milik Shopee, yang bersaing secara maksimal melalui diskonnya yang besar serta menawarkan fitur kepada konsumen untuk menunda pembayaran melalui ShopeePay Later (di mana hal ini juga diterapkan di GoPay). Pada bulan Juli, perusahaan Singapura Sea mengungkapkan lebih dari 45 persen pesanan Shopee di Indonesia dibayar melalui ShopeePay.

Baca Selanjutnya: Selanjutnya...

Halaman

(mdk/bim)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami