Mengenal Libra, Mata Uang Kripto Facebook dan Bahayanya

UANG | 3 Juli 2019 06:00 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Facebook akan terjun di dunia mata uang kripto lewat Libra. Mata uang kripto ini akan muncul bersama dompet kripto bernama Calibra, yang akan menampung dompet digital dari deretan perusahaan yang ada di bawah Facebook, serta menyediakan layanan keuangan berbasis jaringan Libra.

Mata uang kripto ini didukung oleh blockchain dan akan segera tersedia di iOS dan Android di dalam Facebook Messenger Android dan WhatsApp, serta sebagai aplikasi mandiri. Facebook menyebut bahwa Libra akan diluncurkan secara resmi pada tahun 2020.

Meski belum diluncurkan, namun mata uang ini menimbulkan polemik di berbagai kalangan. Berikut hal-hal yang harus diketahui mengenai Libra, beserta bahayanya.

Keunggulan

Libra sendiri awalnya ditujukan Facebook untuk jadi platform pengiriman uang secara langsung dengan biaya rendah atau nol. Model ini mirip yang digunakan oleh mata uang kripto yang telah populer sebelumnya yakni Ethereum, yang menggunakan biaya 'gas' atau lebih mudahnya layaknya uang bensin.

Dicontohkan adalah jika Anda mengonversi Dollar ke Libra, lalu mengirim Libra ke seseorang di Indonesia, dan Dollar tersebut akan dikonversi ke Rupiah tanpa kehilangan prosentase potongan atau biaya administrasi bank. Bisa juga digunakan untuk pengiriman PayPal tanpa biaya dan juga berlangganan Spotify premium tanpa potongan.

Facebook juga menjamin bahwa data transaksi Libra akan bersifat pribadi dan tak akan dibagikan dengan mitra dan bahkan Facebook sendiri. Sehingga tak perlu dikhawatirkan data Anda dimanfaatkan untuk iklan tertarget.

Bahkan, Anda tidak butuh akun Facebook untuk menggunakannya. Jadi, ini adalah platform yang disendirikan dari keutuhan Facebook dan jajarannya sebagai media sosial. Untuk Libra juga, Facebook berhasil menggandeng deretan perusahaan elit, mulai dari Mastercard, Visa, eBay, PayPal, Spotify, Coinbase, Uber, Lyft, serta Vodafone.

Pengguna layanan Facebook.Inc, termasuk WhatsApp, Instagram, dan Messenger, ditargetkan bisa bertransaksi dengan Libra mulai awal 2020 mendatang. Namun, belum jelas apakah ketersediaannya serempak di seluruh dunia atau bertahap di beberapa negara terlebih dahulu. Libra bisa digunakan membeli barang atau mengirim duit ke sesama pengguna tanpa pungutan biaya.

Bahaya

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, mengomentari bahwa pengumuman tersebut membuat crypto currency sebelumnya seperti Bitcoin yang sempat melemah kembali menjadi sorotan.

"Bitcoin memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan meluncurkan 'mata uang' baru dunia. Namanya Libra," kata dia, ditulis Sabtu (29/6).

Dia mengungkapkan saat ini bank-bank sentral di dunia pun angkat bicara. Mereka akan mewaspadai langkah baru Facebook itu sebab dikhawatirkan akan membuat bank tidak ada gunanya lagi.

"Bank sebenarnya adalah hanya perantara. Antara pemilik uang dan pengguna uang. Di zaman modern ini untuk apa lagi ada perantara?," ujarnya.

Dia melanjutkan, bank-bank sentral dunia juga akan menyelidiki kehadiran Libra dan melihat apakah tidak bahaya kalau sampai mata uang seperti dolar dan euro runtuh. Menurutnya, tujuan Facebook meluncurkan Libra adalah agar mata uang dunia itu adil bagi semua orang. Juga agar tersedia jenis 'bank' baru yang lebih murah dan efisien.

Selain itu, Libra milik Facebook juga bisa menjadi mata uang dominan di dunia, mengingat pada kuartal pertama 2019, Facebook memiliki 2,38 miliar pengguna aktif bulanan. Jika sebagian kecil dari mereka mulai menggunakan Libra untuk melakukan transaksi keuangan, membeli dan menjual produk, dan mentransfer uang, mata uang baru itu akan dengan cepat mendapat penerimaan luas.

Terlebih lagi, Facebook menggandeng perusahaan-perusahaan besar seperti Uber, eBay, Lyft, Mastercard, dan PayPal di antara para anggota pendiri. Karena itu, Libra bisa menjadi mata uang global yang dominan, tetapi dijalankan oleh korporasi, bukan bank sentral.

Menuai polemik

Tidak mengherankan, pengumuman Libra telah mendorong banyak pertemuan di bank sentral, di Bank of International Settlements, dan di organisasi multilateral lainnya. Beberapa komentator telah menyambut usulan uang pribadi baru, sementara yang lain ingin pemerintah menghentikan Libra sebelum diluncurkan.

Kritik terhadap inisiatif ini memiliki beberapa kekhawatiran, termasuk kekuatan komputasi yang diperlukan untuk mengelola mata uang, privasi data pengguna, dan kemungkinan bahwa uang baru akan memelihara kegiatan dan pasar ilegal. Tetapi lebih banyak perhatian perlu dicurahkan untuk menganalisis bagaimana Libra dapat secara dramatis mengubah pembuatan kebijakan moneter global. (mdk/azz)

Baca juga:
Facebook Uji Coba Nonaktifkan Notifikasi
Kata Dahlan Iskan Soal Mata Uang Facebook, Libra
Bos Facebook sebut Keberatan Tangani Krisis Misinformasi Pemilu
BI Soal Uang Kripto Facebook: Alat Pembayaran Sah di Indonesia Tetap Rupiah
8 CEO Perusahaan Teknologi yang Tidak Mau Ambil Gaji
Facebook Pakai AI Petakan Populasi Dunia

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.