Mengenal Teknologi Transaksi Tol Tanpa Berhenti dan Sentuh

Mengenal Teknologi Transaksi Tol Tanpa Berhenti dan Sentuh
Jalan Tol. ©2022 Merdeka.com
EKONOMI | 5 Januari 2022 11:13 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kemacetan menjadi salah satu permasalahan di sektor transportasi, termasuk yang terjadi di tol. Kemacetan tol sering kali disebabkan karena adanya antrean pada saat memasuki dan keluar dari area pintu tol.

Pada 2017, pemerintah mulai menerapkan elektronifikasi di seluruh tol dengan mengurangi transaksi tunai. Dengan pembayaran non tunai akurasi pembayaran semakin jelas, lebih baik, cepat serta lebih aman.

Namun, sistem pembayaran tersebut belum sepenuhnya dapat menghemat waktu transaksi. Permasalahan pembacaan kartu elektronik yang lamban atau bahkan gagal membaca, memakan waktu lama untuk menempel di mesin pembaca kartu.

Untuk mengatasi itu, pemerintah pun berupaya untuk menerapkan sistem pembayaran tol tanpa henti atau Multi Lane Free Flow (MLFF). Melalui sistem MLFF, pengguna jalan tol tidak perlu lagi berhenti ketika hendak membayar tol. (mdk/bim)

Baca juga:
Bayar Tol Tanpa Berhenti Akan Diterapkan 2022
PUPR Catat 2.489 Km Jalan Tol Beroperasi Hingga Akhir 2021

Nantinya, saat kendaraan melewati pintu tol, saldo uang elektronik yang ada pada aplikasi di ponsel akan langsung terpotong. Teknologi yang diterapkan pada MLFF yaitu Global Navigation Satelit System (GNSS), merupakan sistem yang memungkinkan melakukan transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit.

Dengan penggunaan uang elektronik telah mengurangi waktu transaksi menjadi 4 detik dibandingkan transaksi manual 10 detik. Sehingga, penggunaan MLFF tentunya memiliki manfaat sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrian menjadi nol detik. Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan juga meminimalisir bahan bakar kendaraan.

Teknologi ini sudah banyak diterapkan di negara-negara maju terutama Eropa. Negara Eropa yang telah menerapkan sistem GNSS antara lain Slowakia, Jerman, Republik Ceko, Rusia, Hongaria, dan Belgia. Kemudian negara-negara Eropa lainnya yang akan mengadopsi sistem transaksi tol nirsentuh GNSS ini adalah Kroasia dan Yunani.

Di kawasan Asia Pasifik, negara sudah mengimplementasikan sistem transaksi tol nirsentuh GNSS ini adalah Australia dan yang dalam waktu dekat akan mengganti sistem transaksi tolnya ke teknologi sistem berbasis satelit tersebut adalah Singapura.

2 dari 3 halaman

Teknologi yang Digunakan

digunakan rev4

Dalam penerapannya, MLFF harus didukung oleh lembaga pengelola yang berperan sebagai toll service provider atau electronic toll collection (ETC). Mengutip balitbanghub.dephub.go.id, terdapat beberapa alternatif teknologi yang bisa dipakai sebagai ETC seperti yang sudah digunakan negara-negara lain, antara lain:

- Dedicated Short Range Communication (DSRC); merupakan alat yang menggunakan radio frekuensi 5,8 Ghz, sehingga pengguna perlu membeli On Board Unit (OBU), yang menyimpan data identitas dan informasi lain dengan tingkat keandalan 99,95 persen

- Radio Frequency Identification (RFID); merupakan alat yang menggunakan radio dengan frekuensi (860-960) Mhz, dan pengguna perlu membeli stiker tag RFID sebagai identitas pengguna, dan memiliki tingkat keandalan sekitar 99,5 persen.

Baca juga:
Libur Tahun Baru, Ratusan Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta
PT PP Resmi Lepas Kepemilikan Saham di PT Jasa Marga Pandaan Malang Tol

- Automatic Number Plate Recoqnition (ANPR); merupakan alat untuk mendeteksi plat nomor, memerlukan akses database plat nomor, tetapi tidak memerlukan OBU.

- Global Navigation Satelite System (GNSS); merupakan OBU untuk melacak posisi pengguna dan tarif dikenakan berdasarkan lokasi pengguna.

- Short Range Communication based on Calm Active Infrared (ISRC) : merupakan teknologi baru yang mirip dengan RFID. Perbedaannya memiliki infrared aktif pada IVU yang dapat memuat semua informasi.

3 dari 3 halaman

Hasil Kajian Balitbang

balitbang rev4

Kebijakan dalam pemilihan teknologi ETC pada penerapan MLFF di Indonesia sangat berpengaruh pada keterbatasan sumber daya dan, infrastruktur, psikologi masyarakat dan faktor sosial ekonomi lainnya.

Berdasar hal tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Antarmoda melakukan penelitian dan studi terkait pemilihan teknologi dalam penerapan elecronic toll cellection yang sesuai dengan kriteria dan faktor-faktor yang ada di Indonesia.

Terdapat beberapa kriteria yang sudah ditetapkan seperti, biaya, kendala/keakurasian, dampak lingkungan, fleksibilitas, kecepatan data, penerimaan, pelaksanaan, kesiapan teknologi, kemudahan pengguna, dan kompleksitas sistem.

Dari beberapa indikator kriteria tersebut terdapat 3 kriteria prioritas atau yang diutamakan dalam pemilihan teknologi ETC adalah tingkat penerimaan, keandalan dan kemudahan penggunaan.

Dari masing-masing teknologi yang ada tentunya memilki kekurangan dan kelebihan yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Balitbanghub menunjukkan bahwa rentang pendek digital berbasis microwave sistem komunikasi (DSRC) lebih disukai dan diyakini menjadi yang berpotensi, karena kesederhanaan operasi, potensi untuk mendukung layanan tambahan untuk pengguna kendaraan dan, yang paling penting, karena mudah bagi pengguna memahaminya.

Baca juga:
Begini Skema dan Cara Bayar Tol Tanpa Sentuh
Implementasi Pembayaran Tol Tanpa Sentuh Mulai Desember 2022, Pertama di Jabodetabek
Ada 166 Truk Kelebihan Muatan Ganggu Lalu Lintas Tol, Kemenhub Gencarkan Razia
165 Ribu Kendaraan Kembali ke Jabotebek pada H+1 Natal 2021
Daftar Lengkap Tarif Terbaru Tol Trans Jawa, Ada yang Naik Rp1.000 dan Rp2.500

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami