Menhub Budi Minta Serikat Pekerja Garuda Tak Lakukan Aksi Mogok Kerja

Menhub Budi Minta Serikat Pekerja Garuda Tak Lakukan Aksi Mogok Kerja
Budi Karya Sumadi. ©twitter.com
EKONOMI | 28 April 2019 11:00 Reporter : Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, mengomentari ancaman Serikat Karyawan Garuda Indonesia yang terdiri dari Serikat Karyawan Garuda Indonesia (SEKARGA) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Dewan Pimpinan Cabang Awak Kabin yang berencana untuk melakukan aksi mogok dalam waktu dekat ini.

Aksi mogok itu, menyikapi kisruh yang terjadi pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang berlangsung pada 24 April 2019. Menhub Budi mengimbau agar aksi mogok kerja tersebut tidak dilakukan.

"Ya besok kan katanya. Saya mengimbau agar semua stakeholders itu menahan diri, termasuk Serikat Pekerja, jangan lakukan itu (mogok kerja)," ujarnya saat ditemui di Kawasan CFD Bunderan HI, Jakarta, Minggu (28/4).

Kendati demikian, dia optimis kabar mengenai rencana aksi mogok tidak akan mengganggu operasional penerbangan secara umum. "Insya Allah tidak. Makanya saya bilang Insya Allah tidak. Kami minta mereka menahan diri," ujarnya.

Menhub budi mengaku akan segera melakukan komunikasi dengan serikat pekerja yang berencana melakukan aksi mogok tersebut. "Nanti hari Senin saya akan kirim surat ke mereka," tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Umum SEKARGA Ahmad Irfan menjelaskan, dalam RUPST tersebut, dua komisaris yaitu Chairal Tanjung dan Dony Oskaria yang mewakili PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd menyampaikan penolakan terhadap laporan keuangan perseroan periode 2018.

Namun meskipun ada penolakan, RUPST tetap mensahkan laporan keuangan yang menyatakan bahwa Garuda mencatatkan laba bersih USD 809.846 atau setara Rp 11,49 miliar. Alhasil, Ahmad Irfan melanjutkan, kedua komisaris tersebut berbicara di luar RUPST.

Menurutnya, langkah yang dilakukan oleh kedua komisaris tersebut tidak elok. "Para pemegang saham dan komisaris itu kan bisa berkomunikasi di dalam. Mereka punya alat untuk itu. Jangan ngomong di luar," kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu (27/4).

Akibat dari aksi atau pernyataan komisaris di luar RUPST Garuda Indonesia tersebut, maka kepercayaan masyarakat rusak. Harga saham Garuda Indonesia di pasaran pun akhirnya turun signifikan. Pernyataan tersebut telah berpengaruh terhadap kepercayaan pelanggan setia Garuda Indonesia.

"Akhirnya dampaknya ke kami-kami juga sebagai karyawan. Kami mencari nafkah di situ," kata Ahmad Irfan.

Atas pertimbangan tersebut, seluruh karyawan Garuda Indonesia pun memutuskan untuk melakukan aksi mogok termasuk didalamnya penerbang dan pramugari. Mengenai kepastian kapan aksi tersebut akan dilakukan, Ahmad Irfan masih belum memutuskan.

"Ini kami imbau dulu ke pemegang saham dan komisaris Garuda. Jika tak bisa kami baru bergerak karena untuk menentukan waktu itu butuh banyak pertimbangan," tandasnya.

Baca juga:
Karyawan Garuda Indonesia Ancam Mogok Kerja Pasca Kasus Laporan Keuangan Janggal
Menteri Rini Klaim Keuangan Garuda Terus Membaik Meski Masih Merugi
Laporan Keuangan Garuda Indonesia yang Ditolak Komisaris Sudah Disetujui OJK
BEI Panggil Direksi Garuda Indonesia 30 April, Bahas Laporan Keuangan 2018
Menhub Budi Minta 2 Kementerian Tekan Garuda Indonesia Turunkan Tarif Tiket Pesawat
2018 Rugi, Garuda Indonesia Raup Laba Rp 278 M di Kuartal I 2019
Dari Rugi Rp 903 Miliar, Garuda Indonesia Kini Catatkan Laba Rp 276 Miliar

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami