Menjadi Malas Baik Untuk Kinerja Otak Saat Pandemi Corona, Ini Alasannya

Menjadi Malas Baik Untuk Kinerja Otak Saat Pandemi Corona, Ini Alasannya
ilustrasi bersantai. © paulstallard.me
UANG | 23 Mei 2020 05:00 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Seorang Penulis buku best-seller yang juga seorang guru, Chris Bailey mengatakan, kemalasan adalah hal yang membuat dirinya tertarik pada produktivitas; menyelesaikan lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit berarti lebih banyak kesempatan untuk bersantai.

Dia menjelaskan, penelitian menunjukkan memberi diri Anda izin untuk menjadi malas bisa jadi penangkal stres. Terlebih saat ada pandemi corona, di mana banyak orang yang tertekan karena sebagian dari mereka khawatir tidak melakukan sebanyak yang mereka pikir seharusnya.

"Ketika saya mengatakan 'malas', saya tidak berbicara tentang menghabiskan waktu Anda dengan tanpa pikiran. Saya berbicara tentang kemalasan yang pantas, atau memilih untuk tidak melakukan apa pun," kata Bailey dilansir CNBC Make It.

Untuk sebagian besar hari, tujuannya adalah tetap fokus sehingga dirinya dapat terus memeriksa hal-hal dari daftar yang harus dilakukan. Misalnya, ketika berada di kantor, hal ini membantunya untuk mengembangkan pola pikir produktivitas dan mencapai lebih banyak.

"Namun, selama pandemi, pola pikir produktivitas bisa menjadi hal yang buruk. Itu karena otak kita terhubung secara selektif untuk fokus pada hal-hal yang kita temukan baru dan mengancam. Ini menjelaskan mengapa kita melakukan hal-hal seperti memeriksa berita (atau media sosial) setiap 10 menit atau memikirkan email yang mengkhawatirkan," imbuhnya.

Meski demikian, menjadi malas bukan berarti Anda berdiam diri dalam satu ruangan dan tidak melakukan apapun. Melainkan, memberikan kegiatan yang lebih lambat dan lebih sehat yang bisa membuat bahagia, seperti berjalan-jalan atau membaca buku.

"Namun, selama pandemi, pola pikir produktivitas bisa menjadi hal yang buruk. Itu karena otak kita terhubung dengan selektif untuk fokus pada hal-hal yang kita temukan baru dan menantang. Ini menjelaskan mengapa kita melakukan hal-hal seperti memeriksa berita (atau media sosial) setiap 10 menit atau menerima email yang mengkhawatirkan," katanya.

Baca Selanjutnya: Menurut sebuah studi 2011 ketika...

Halaman

(mdk/azz)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami