Menko Luhut Sebut Potensi Karbon Kredit Indonesia Capai USD 200 Miliar per Tahun

UANG | 10 Desember 2019 14:19 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyebut bahwa Indonesia memiliki peluang bisnis karbon kredit. Karbon kredit merupakan perdagangan emisi antar negara dalam rangka penanganan perubahan iklim .

"Indonesia punya 75-80 persen karbon kredit dunia," kata Luhut di kantor Kementerian Bidang Maritim dan Investasi, Jakarta, Selasa (10/12).

Jumlah tersebut lanjut Luhut, berasal dari lahan gambut di Indonesia seluas 7,5 juta hektare yang perlu dipelihara. Lalu, ada hutan mangrove seluas 3,1 juta hektare dan hutan lepas sekitar 160 juta hektare termasuk coral beach.

Kredit karbon ini sangat dibutuhkan negara- negara Eropa penyumbang emisi. Sebab mereka banyak menyumbang emisi sehingga perlu mengkompensasi dengan kredit karbon.

Luhut menyebut, nilai jual karbon kredit bisa mencapai USD 100-200 miliar per tahun. "Dan yang mereka bisa belanja itu di Indonesia," kata Luhut.

1 dari 1 halaman

Susun Strategi

Untuk itu, saat ini pihaknya sedang menyusun dokumen strategi dan perencanaan (roadmap) dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Tujuannya agar dipahami semua pihak yang terlibat dalam proyek karbon kredit.

Luhut menyebut dengan posisi seperti ini, Indonesia akan memiliki daya tawar dan posisi runding yang sangat tinggi. "Posisi Indonesia akan bagus ke depannya," ujar mantan Kepala Staf Kepresidenan ini. (mdk/idr)

Baca juga:
Pasokan Minyak Sawit Terbatas, Program Biodiesel Disebut Luhut Hanya Cukup Sampai B50
Bank Mandiri Perketat Syarat Pembiayaan di Sektor Pertambangan dan Energi
Pulang dari Belgia, Wamendag Lapor Perundingan Sawit dengan Uni Eropa
Usai Dilantik, Ketua DPW Apkasindo Riau Akui Banyak Masalah Dihadapi Petani Sawit
Presiden Jokowi: Ada yang Senang Impor, Saya Akan Ganggu

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.