Menlu Retno: Tiap Pertemuan Pemimpin Dunia Pembahasan Pasti Masalah Ekonomi

UANG | 19 November 2019 11:46 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menjadi pembicara dalam Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Menara Kadin, Jakarta. Dalam kesempatan itu, dirinya menyampaikan berbagai kondisi perekonomian di berbagai negara.

Menteri Retno mengatakan, isu ekonomi saat ini memang menjadi pembicaraan hangat setiap pertemuan antar kepala negara. Utamanya adalah masalah investasi dan perdagangan di tengah perlambatan ekonomi dunia.

"Kalau dulu pembahasan politik dominan. Sekarang setiap pertemuan pembahasan isu adalah masalah ekonomi," kata Menteri Retno dalam sambutannya, di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (19/11).

Dia menceritakan, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-35 ASEAN di Bangkok beberapa waktu lalu, isu ekonomi menjadi fokus pembicaraan dari berbagai negara. Rata-rata negara maju bahkan merasa khawatir dengan kondisi perekonomian dunia.

"Di dalam situ ada Sekjen PBB, IMF, dari semua pembicaraan maka satu kesimpulan tampak sekali kekhawatiran para pemimpin dunia mengenai situasi dunia saat ini aspek politik dan ekonomi," jelasnya.

1 dari 1 halaman

IMF Sebut Resesi Ekonomi Saat ini Terparah Sejak Krisis

Pada aspek ekonomi, laporan IMF menyebutkan bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi bahkan terendah sejak terjadinya krisis. Dalam enam bulan terakhir, koreksi pertumbuhan ekonomi dunia yang dilakukan oleh IMF terus mengalami perubahan.

"Pertumbuhan ekonomi untuk 2019 diperkirakan 3,2 persen dan di 2020 ada sedikit kenaikan 3,5 persen tapi sekali lagi subjek situasi yang terjadi di dunia bukan tidak mungkin bisa berubah jika situasi dunia tidak berubah," katanya.

Menteri Retno menambahkan, perlambatan pertumbuhan ekokomi dunia juga terjadi di hampir 90 persen negara maju. "Semua negara mengalami pertumbuhan melambat. IMF katakan global ekonomi sedang slow down. Dan IMF katakan lebih," imbuh dia.

Di samping itu, Menteri Retno juga mengingatkan situasi lain yang perlu diantisipasi oleh pelaku pasar. Kondisi perang dagang Amerika Serikat dan China masih akan terus berlangsung. Tak sampai di situ, bahkan keregangan hubungan juga terjadi antara Jepang dan Korea Selatan membuat kondisi semakin tak menentu.

"Tidak bisa kita kesampingkan saat kita bicara masalah ekspor impor. Jadi tampaknya itu menjadi tren sekarang," tandasnya.

(mdk/bim)

Baca juga:
Pemerintah Nilai RI Jauh dari Potensi Resesi, Inilah Alasannya
Ibu Kota Pindah, Anies Baswedan Pastikan Jakarta Jadi Pusat Ekonomi
Transaksi E-Commerce Indonesia Diprediksi Capai Rp913 Triliun di 2022
Menkeu Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,3 %
Sandiaga Uno Sebut Ekonomi Indonesia Mengalami Pelambatan
Percepat Pertumbuhan Keuangan Ekonomi Syariah, Ini Rekomendasi Bos BI
Perekonomian Lesu, Angka Kredit Macet di Solo Melonjak

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.