Menteri BUMN Rini Soemarno Tinjau Pabrik Krakatau Steel

UANG | 18 Oktober 2019 11:02 Reporter : Rizlia Khairun Nisa

Merdeka.com - PT Krakatau Steel (persero) Tbk hari ini menerima Kunjungan Kerja yang dipimpin oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno meninjau pabrik Krakatau Steel setelah sebelumnya ke daerah Baduy. Rombongan ini terdiri dari Menteri BUMN Rini M. Soemarno, Sekretaris Menteri BUMN Imam Apriyanto, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro, Staf Khusus Menteri BUMN Wianda Pusponegoro beserta staf Kementerian BUMN.

Sedangkan perwakilan direksi dari perusahaan BUMN di antaranya Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim, Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Jaringan BNI Tambok P. Setyawati, Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas, Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, Direktur Consumer Banking BTN Budi Satria, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo, serta Direktur Consumer Service Telkom Siti Choiriana.

Perjalanan kunjungan kerja ini merupakan peninjauan atau Plant Visit ke beberapa pabrik milik Krakatau Steel di antaranya pabrik Blast furnace, Slab Steel Plant, serta pabrik yang rencananya akan mulai beroperasi pada tahun ini yaitu Hot Strip Mill #2. Dengan beroperasinya pabrik Hot Strip Mill #2 diharapkan akan ada penambahan kapasitas produksi secara signifikan untuk produk Hot Rolled Coil (HRC).

Dalam Plant Visit Krakatau Steel tersebut, Menteri Rini mengharapkan peningkatan kinerja perusahaan dalam manajemen dan produktivitas setelah beberapa waktu terakhir mengalami kesulitan dalam finansial. Rini berharap dengan keberadaan beberapa fasilitas baru seperti Blast Furnace dan Hot Strip Mill #2 produktivitas perusahaan bisa lebih meningkat sehingga perusahaan bisa lebih sehat dari sebelumnya.

"Saya ingin melihat Blast Furnace yang sudah mulai beroperasi meski sempat tertunda. Alhamdulillah Pak Silmy ada di sini dan(Blast Furnace) sudah diselesaikan hingga menghasilkan hot metal. Selain itu dengan ada tambahan Hot Strip Mill #2 diharapkan bisa memproduksi baja setipis 1,4 mm. Ukuran baja itu saat ini sedang dibutuhkan di pasaran. Dengan menambah kapasitas produk HRC (Hot Rolled Coil), pendapatan Krakatau Steel diharapkan meningkat. Kemarin juga Pak Silmy bilang sudah bisa merestrukturisasi utang. Insya Allah dengan demikian KS di tahun depan bisa lebih sehat," jelasnya.

©2019 Merdeka.com

Pengembangan pasar HRC Krakatau Steel dilakukan terutama menyasar pada proyek-proyek infrastruktur maupun pengadaan pipa minyak dan gas bumi. Sedangkan untuk pemenuhan ekspor, selain ke Malaysia dan Australia, Krakatau Steel juga sedang menjajaki perluasan pasar ke negara lainnya yang bekerja sama dengan mitra strategis penjualan.

"Sekarang ini produksi HRC kami sekitar 2,2 juta ton per tahun. Jika HSM #2 beroperasi di 2020 nanti, maka produksi kami bisa mencapai 3,7 juta ton per tahun. Kami akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk HRC Krakatau Steel. Oleh karena itu kami saat ini berusaha terus melakukan pengembangan pasar dan mencari peluang pasar baru yang memungkinkan untuk menyerap produksi HRC yang mulai ada peningkatan signifikan," tambah Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.

Dalam penghujung kunjungannya Rini berpesan, "Semangat terus anak-anak muda Krakatau Steel. Ayo selesaikan HSM #2 tepat waktu. Buatlah sesuatu yang membanggakan bangsa. Dan jaga terus Krakatau Steel harus selalu sehat," lanjutnya.

Sebelumnya, Perjalanan kunjungan kerja ini diawali dari pagi ini menyasar bantuan ke daerah Baduy dengan memberikan sejumlah bantuan di antaranya bantuan renovasi rumah korban kebakaran Kampung Kadu Gede, bantuan pembangunan lumbung padi di Desa Baduy, bantuan sarana prasarana pendidikan untuk PAUD Saluyu dan MI Mathlaul Anwar, bantuan peralatan usaha olah pangan Cibeo, bantuan sarana prasarana Kampung Wisata Baduy, bantuan perbaikan sarana prasarana Desa Baduy, bantuan program edukasi dan pelayanan kesehatan masyarakat Baduy, serta bantuan peralatan usaha kios Duta Baduy.

Total Bantuan Sinergi BUMN untuk Indonesia di wilayah Baduy, Lebak, Banten ini mencapai Rp1,5 miliar yang digalang oleh Himbara (PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk), PT Pertamina (Persero), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, serta PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

(mdk/hhw)