Merger Bank Syariah Memperkuat Posisi Indonesia di Industri Halal Global

Merger Bank Syariah Memperkuat Posisi Indonesia di Industri Halal Global
UANG | 10 November 2020 09:51 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Merger bank syariah milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai dapat menguatkan posisi Indonesia di industri halal global. Bank syariah hasil merger juga menjadi katalis perkembangan industri syariah di Indonesia.

Direktur Jasa Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Taufik Hidayat mengatakan, indikasi positif terhadap bank syariah tercermin dari nilai potensi industri halal global pada 2018 lalu mencapai USD 2,2 triliun.

"Ada 10 besar produk makanan halal dengan total nilai potensi ekspor senilai USD 229 Juta. Dari 10 besar produk makanan halal tersebut, market share Indonesia masih sekitar 39 persen. Artinya masih terbuka peluang 61 persen atau US$139 Juta," ujar Taufik dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Selasa (10/11).

Taufik menambahkan, selain mendorong penguatan industri produk halal, bank hasil merger juga bisa berperan dalam pembangunan infrastruktur kawasan industri halal. Pembangunan ini menjadi salah satu fokus pemerintah guna memaksimalkan potensi industri halal di Indonesia.

Taufik menyebutkan bahwa target investasi infrastruktur kawasan industri halal mencapai Rp6.445 triliun. Investasi sebanyak itu membutuhkan dukungan dari pelaku industri perbankan. Kehadiran bank syariah hasil merger bisa membantu realisasi dukungan tersebut.

"Bank merger memiliki peluang untuk (terlibat dalam) pembangunan infrastruktur kawasan industri halal serta modal usaha pelaku bisnis, dan juga pembiayaan di bidang logistik, transportasi dan sarana penunjang ekspor, serta infrastruktur prioritas nasional dan daerah," ujarnya.

Menurut Taufik, merger tiga bank syariah BUMN sudah dilakukan sesuai rekomendasi KNEKS untuk memperkuat penetrasi industri keuangan syariah di Indonesia. Penguatan harus dilakukan karena KNEKS melihat masih lemahnya kekuatan industri keuangan, terutama perbankan, syariah di Indonesia.

Dalam catatannya, Taufik menyebut kelemahan industri perbankan syariah muncul karena empat hal dari internal yakni terbatasnya permodalan, rendahnya kualitas dan kuantitas SDM, keterbatasan teknologi, informasi dan jaringan, serta minimnya keunikan produk.

"Sedangkan dari faktor eksternal yaitu kurangnya literasi dan edukasi ke masyarakat dan kurangnya infrastruktur pendukung. Kami dari KNEKS merekomendasikan bank-bank syariah mendorong industri perbankan syariah untuk melakukan konsolidasi, sehingga mampu meningkatkan daya saing melalui penguatan struktur permodalan dan optimalisasi sinergi bank dalam satu kepemilikan," tuturnya.

Baca Selanjutnya: Berdampak Positif ke Sisi Bisnis...

Halaman

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami