Miliuner Dunia Ingin Pajak Orang Kaya Naik

UANG | 27 Juni 2019 07:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Miliuner George Soros mengirim surat terbuka agar pajak orang kaya dinaikan. Permintaan ini dia sampaikan karena pajak para miliuner dinilai bisa menyelesaikan berbagai masalah seperti krisis iklim dan membantu pertumbuhan ekonomi.

Dilaporkan Fox Business, surat terbuka itu dikirim Soros dan beberapa miliuner lain kepada calon presiden 2020 agar mendukung naiknya pajak bagi mereka yang merupakan bagian dari 1 persen orang terkaya di Amerika Serikat (AS).

"Amerika memiliki tanggung jawab moral, etika, dan ekonomi untuk lebih banyak menarik pajak dari kekayaan kami. Pajak kekayaan bisa membantu menanggulangi krisis iklim, meningkatkan ekonomi, meningkatkan kesehatan, menciptakan peluang dengan adil, dan memperkuat kemerdekaan demokratis kita. Melaksanakan pajak kekayaan adalah kepentingan republik kita," demikian bunyi surat terbuka itu.

Selain miliuner George Soros, para orang kaya lain yang menandatangani surat terbuka itu adalah Justin Rosentein, Alexander Sorot, Abigail Disney, dan Chris Hughes.

George Soros juga sudah dikenal sering menyumbang uang demi kepentingan kemanusiaan. Menurut Forbes, kekayaannya kini mencapai USD 8,3 miliar atau Rp117,1 triliun (USD 1 = Rp14.818).

Sebelumnya, beberapa capres AS yang mendukung naiknya pajak miliuner seperti Senator Elizabeth Warren. Uang itu juga akan digunakan demi melunasi utang kuliah para warga AS.

Miliuner Bill Gates juga pernah menyampaikan bahwa pajak orang kaya seperti dirinya perlu naik. Pandangan itu juga didukung oleh investor legendaris Warren Buffett.

Sebelumnya, Senator Elizabeth Warren dari Massachusetts, Amerika Serikat (AS), mengungkapkan rencana menambah pajak para miliuner sejumlah 3 persen. Nama rencana Warren adalah "Ultra-Millionaire Tax".

Dijelaskan Market Watch, proposal Warren adalah menambah pajak sebesar 2 persen bagi warga AS yang hartanya di atas USD 50 juta atau Rp706 miliar.

Apabila harta mereka di atas USD 1 miliar (Rp14,1 triliun), maka pajak bertambah 3 persen. Miliarder seperti Bill Gates dan Warren Buffett pun harus membayar lebih banyak uang untuk pajak.

Masalahnya adalah, kekayaan versi pajak Warren hanya menghitung harta keseluruhan, sementara banyak miliarder memiliki harta berdasarkan saham yang mereka miliki, sehingga timbul pertanyaan bagaimana para miliarder harus membayar pajak ini.

Salah satu miliuner terkaya AS, Michael Bloomberg, menentang rencana ini dan menyebut kemungkinan rencana itu tidak konstitusional. Penolakan pun datang dari mantan CEO Starbucks Howard Schultz yang menyebut Warren semata mencari perhatian.

"Ketika saya melihat Elizabeth Warren tampil dengan rencana konyol menambahkan pajak orang kaya sebanyak 2 persen karena itu membuat headline, itu adalah perbuatan yang ngawur," ucap Schultz kepada NPR.

Menurut Forbes, Schultz memiliki harta USD 3,4 miliar (Rp48 triliun) dan harta Bloomberg USD 47,2 miliar (Rp666,7 triliun).

Warren merespons kalem kritikan dua miliarder itu. "Ada lagi miliarder yang berpikir para miliarder seharusnya tidak membayar lebih banyak pajak. Tak mengejutkan, tetapi itulah cara kita membangun masa depan negeri ini," ujarnya.

Bila rencana pajak miliarder sah, total uang yang bisa dikumpulkan dalam 10 tahun berkat rencana pajaknya adalah USD 2,75 triliun (Rp38,8 ribu triliun). Warren pun sudah resmi mencalonkan diri sebagai calon Presiden AS dari Partai Demokrat untuk tahun 2020.

Reporter: Tommy Kurnia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Bill Gates Beri Saran Penting Ini Untuk Pegiat Startup
8 CEO Perusahaan Teknologi yang Tidak Mau Ambil Gaji
Bos LVMH Bernard Arnault jadi Orang Terkaya Ketiga Dunia, Hartanya Rp1.423 Triliun
Pesan Miliuner Dunia: Jangan Habiskan Waktu untuk Urusi Masalah Orang Lain
Jadi Orang Terkaya Israel, Nenek ini 'Tendang' Pemilik Klub Chelsea Roman Abramovich
5 Artis Pemberi Donasi Terbesar di Dunia

(mdk/idr)

TOPIK TERKAIT