Kasus Gagal Bayar Bumiputera

Nestapa Nasabah Asuransi Bumiputera: Dicuekin Manajemen, Dibiarkan OJK

Nestapa Nasabah Asuransi Bumiputera: Dicuekin Manajemen, Dibiarkan OJK
UANG | 20 Desember 2019 09:00 Reporter : Syakur Usman

Merdeka.com - Selain kasus gagal bayar Jiwasraya, asuransi tertua di Indonesia, AJB Bumiputera 1912, juga alami gagal bayar. Bahkan jumlah nasabah Bumiputera yang berpotensi tidak cair dananya mencapai jutaan orang.

Laporan Bank Dunia yang dikutip dari berbagai sumber menyebutkan, sekitar tujuh juta nasabah Bumiputera dengan lebih dari 18 juta polis potensial terkena gagal bayar. Artinya, tujuh juta orang atau lebih kemungkinan besar tidak bisa menerima duitnya, meski polisnya jatuh tempo atau habis kontrak. Tahun ini saja ada 200 ribu nasabah yang duitnya mesti dibayarkan Bumiputera.

Merdeka.com mewawancarai beberapa nasabah asuransi Bumiputera yang berani buka suara soal duitnya tidak tak kunjung cair.

Sebut saja namanya Budi, ayah dua anak yang tinggal di kawasan Tangerang, Banten. Hingga kini Budi masih geram karena polis asuransi pendidikan Bumiputeranya tak kunjung cair, meski habis kontrak pada Juli tahun ini. Padahal polis asuransi ini diandalkan untuk membayar biaya kuliah tahun pertama anak sulungnya pada Agustus lalu.

Sejak kontraknya habis, Budi rajin menyambangi kantor cabang AJB Bumiputera di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Hampir setiap pekan dia mampir untuk menanyakan nasib duitnya. Namun, setiap pekan pula dia menerima kabar tak menyenangkan. Asuransi Bumiputera gagal bayar alias tidak mampu membayar uang pertanggungannya akibat kesulitan keuangan.

Meski berkali-kali menerima kabar tanpa kepastian waktu pembayaran polisnya, Budi tetap rajin mampir ke kantor Bumiputera Tanah Kusir itu. Sementara waktu pembayaran tahun pertama kuliah sang anak semakin mepet.

"Saya marah besar minta kepastian pencairan dana. Kalau tidak ingat anak, saya sudah obrak-abrik itu kantor," ujar Budi menceritakan kegeramannya pada Merdeka.com, baru-baru ini.

Kepala Budi semakin panas, karena memiliki polis kedua di Bumiputera. Polis asuransi pendidikan senilai puluhan juta rupiah itu terancam bernasib sama dengan polis pertamanya. Polis asuransi untuk anak kedua ini akan habis pada 2022.

Kini si sulung sudah masuk kuliah sejak Agustus lalu. Uang polisnya yang rajin dibayarkan setiap tahun itu tak kunjung keluar hingga kini.

"Saya dijanjikan (dana) akan cair pada Januari tahun depan," ujarnya dengan nada pasrah.

Baca Selanjutnya: Ikut Asuransi tapi Justru Tidak...

Halaman

(mdk/sya)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami