Nilai Tukar Rupiah Kembali Jatuh ke Level Rp16.337 per USD

Nilai Tukar Rupiah Kembali Jatuh ke Level Rp16.337 per USD
UANG | 30 Maret 2020 17:56 Reporter : Idris Rusadi Putra

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah di perdagangan hari ini, Senin (30/3). Sore ini, Rupiah tercatat ditutup di level Rp16.337 per USD atau melemah dibanding penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp16.170 per USD.

Mengutip data Bloomberg, tadi pagi Rupiah padahal sempat menguat di level Rp16.155 per USD. Namun, mulai siang hari Rupiah terus bergerak melemah.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan pelemahan nilai tukar hari ini disebabkan oleh pernyataan IMF pada pekan lalu. Di mana, IMF menyatakan pandemi Virus Corona berubah menjadi krisis ekonomi global.

"Soal Rupiah yang melemah, wajar sekali karena hampir semua negara secara global baik investor setelah mendapat informasi dari IMF bahwa Covid-19 akan menyebabkan krisis ekonomi global," ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta, Senin (30/3).

Ibrahim mengatakan, pernyataan tersebut telah memunculkan kepanikan bagi pasar keuangan. Terlebih lagi pasar mengamati bahwa dampak penyebaran pandemi saat ini masih akan berlangsung untuk jangka yang cukup lama.

"Pelaku pasar kembali panik dan menganggap Virus Corona adalah periode ketidakpastian yang kemungkinan besar akan terus berkembang. Jadi ketidakpastian yang berkepanjangan," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Pernyataan IMF

rev1

Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini mengalami krisis karena pandemi Virus Corona (Covid-19). Virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut telah mewabah hampir ke seluruh negara.

"Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pandemi kesehatan global telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan," demikian dikutip dari siaran pers IMF, Jakarta, ditulis Sabtu (28/3).

Dengan adanya penghentian mendadak dalam kegiatan ekonomi, output global akan berkontraksi pada 2020. Negara-negara anggota telah mengambil tindakan luar biasa untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi kegiatan ekonomi.

"Tetapi dibutuhkan lebih banyak. Prioritas harus diberikan pada dukungan fiskal yang ditargetkan untuk rumah tangga dan bisnis yang rentan untuk mempercepat dan memperkuat pemulihan pada tahun 2021," lanjutnya.

Meskipun dampak kesehatan terbesar adalah di negara maju, pasar negara berkembang dan negara berkembang, terutama negara berpenghasilan rendah, akan sangat terpukul oleh kombinasi dari krisis kesehatan, pembalikan tiba-tiba aliran modal dan bagi sebagian orang, penurunan tajam dalam harga komoditas.

Banyak dari negara-negara ini membutuhkan bantuan untuk memperkuat respons krisis mereka dan memulihkan pekerjaan dan pertumbuhan, mengingat kekurangan likuiditas valuta asing di ekonomi pasar berkembang dan beban utang yang tinggi di banyak negara berpenghasilan rendah. (mdk/idr)

Baca juga:
Rupiah Kembali Melemah Imbas Pernyataan IMF Virus Corona Picu Krisis Ekonomi
Intervensi BI dan Pengusaha Buat Rupiah Ditutup Menguat Hari ini
Bank Indonesia: Rupiah Menguat ke Level Rp16.100 per USD
Bos BI Pastikan Cadangan Devisa Aman Meski Banyak Lakukan Intervensi Pasar
Rupiah Merosot ke Rp16.000 per USD, Ini Perbedaannya dengan Krisis 1998
Bos BI soal Rupiah Menguat ke Rp16.505 per USD: Terima Kasih Para Eksportir

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5