Notebook dan Ponsel Tanpa Baterai China Dominasi Impor September 2019

UANG | 15 Oktober 2019 12:53 Reporter : Anggun P. Situmorang

Merdeka.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, mencatat impor Indonesia pada September 2019 sebesar USD 14,26 miliar. Mayoritas impor masih disumbang oleh China sebesar USD 3,8 miliar.

"Pada September komoditas utama yang kita impor dari Tiongkok adalah handphone tanpa baterai kemudian notebook," ujarnya di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (15/10).

Menurut data BPS, selain impor handphone tanpa baterai, Indonesia juga mengimpor barang-barang lain dari negara tirai bambu tersebut. Beberapa di antaranya seperti mesin pesawat mekanik, peralatan listrik, besi baja, perabotan hingga penerangan rumah.

"Untuk beberapa negara impor non migas kita mengalami peningkatan. Impor dari Tiongkok mengalami peningkatan USD 142,6 juta dari bulan Agustus ke bulan September 2019," jelasnya.

Selain China, negara lain pemasok barang impor ke Indonesia adalah Ukraina, Korea Selatan, Singapura dan Jepang. Keempat negara tersebut mengimpor serelia, transmisi, emas dan mesin pesawat mekanik.

"Impor kita (selain China) dari Ukraina mengalami peningkatan, dari Ukraina ini kalau kita bedah ke dalam barangnya adalah serelia dan juga mesin pesawat mekanik. Ekspor dari Korea Selatan juga mengalami peningkatan USD 140 juta. Sementara dari Jepang, beberapa transmisi dan mesin. Dari Singapura adalah emas," katanya.

1 dari 1 halaman

Impor September 2019 Naik 2,41 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju impor September 2019 mencapai USD14,26 miliar. Laju impor tersebut mengalami penurunan sebesar 2,41 persen dibandingkan dengan September 2018 yang sebesar USD14,61 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, laju impor migas di September 2019 mengalami penurunan, sebaliknya pada impor non migas mengalami peningkatan. Secara bulanan, sektor migas mengalami penurunan 2,36 persen menjadi sebesar USD1,59 miliar dari USD1,63 miliar di Agustus 2019.

"Untuk impor di sektor non migas tercatat mengalami kenaikan. Dari Agustus 2019 sebesar USD12,54 miliar menjadi USD12,67 miliar di September 2019," jelas dia.

Pada komoditas non migas yang mengalami peningkatan nilai impor terbesar yakni serelia sebesar USD25,5 juta, kapal laut dan bangunan terapung USD102,8 juta, kendaraan dan bagiannya USD97,2 juta, bahan kimia organik USD27,9 juta, serta kapas USD22,1 juta.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan nilai impor terbesar yakni gula dan kembang gula sebesar USD66 juta, kapal terbang dan bagiannya USD53,9 juta, tembaga USD47,4 juta, benda-benda dari besi dan baja USD31,9 juta, serta binatang hidup USD27,7 juta.

Adapun secara sepanjang Januari-September 2019 kinerja impor Indonesia tercatat mencapai USD126,12 miliar. Realisasi ini lebih rendah 9,12 persen dari periode Januari-September 2018 yang sebesar USD126,12 miliar.

(mdk/bim)

Baca juga:
10 Orang Terkaya di China, Ada yang Hartanya Nyaris Rp600 Triliun
Luhut Sebut Daya Saing RI Turun Terdampak Gejolak Ekonomi Global
Bahkan Jejak Kematian Pun Disingkirkan, China Hancurkan Makam Muslim Uighur
Hingga 2021, Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Diproyeksi Melambat
10 Negara Dengan Daya Saing Terbaik di Dunia, Singapura Nomor 1
Video Tahanan Uighur Ditutup Mata di Xinjiang Beredar di Internet
Pemimpin Hong Kong Siap Minta Bantuan China jika Demo Makin Parah