OJK: Fintech Terdaftar Hanya Minta Akses Kamera, Mikrofon dan Lokasi

UANG | 15 Juni 2019 09:30 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan tetap membatasi akses data digital pribadi untuk fintech lending atau pinjaman online selama belum ada undang-undang (UU) perlindungan data pribadi yang bisa menjerat pelaku penyalahgunaan data ini. OJK lebih memilih pemberian akses cukup pada fitur kamera, mikrofon, dan lokasi.

"Ini juga yang membedakan antara fintech legal dan ilegal. Kalau ilegal pasti akan mengakses semua data pribadi nasabahya, sedangkan fintech legal hanya mengakses fitur kamera, lokasi, dan mikrofon ponsel atau gawai nasabahnya," kata Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK, Hendrikus Passagi, seperti dikutip dari Antara di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (14/6) malam.

"Kami melihat bahwa kalau semua data digital pribadi bisa diakses dan belum ada UU yang bisa menjerat pelaku penyalahgunaan data ini, maka kami dari regulator khusus untuk fintech lending harus sangat mempertimbangkan mengenai relevansi peruntukkan data yang diakses oleh penyelenggara," tambahnya.

OJK, kata dia, belum akan mengubah ketentuan yang mengatur fintech lending yang hanya bisa mengakses data tiga fitur yakni kamera, mikrofon, dan lokasi di gawai nasabah peminjamnya sampai munculnya undang-undang perlindungan data pribadi.

"Selama undang-undang ini belum ada, kami akan hentikan akses terhadap data pribadi di luar ketiga fitur tersebut. Tapi di sisi lain, sambil menunggu undang-undang tersebut hadir, kami mengajak Asosiasi Fintech Pendanaan, Badan Sandi dan Siber Negara serta Kemenkominfo untuk duduk bersama memikirkan langkah-langkah antisipasi yang memungkinkan dibukanya akses data pribadi sambil menunggu muncul undang-undang perlindungan data pribadi," katanya.

Sebelumnya, hingga awal tahun ini, Satgas OJK telah menghentikan dan mempublikasikan 635 entitas fintech lending yang beroperasi tanpa izin atau ilegal.

Kegiatan fintech lending ilegal ini sangat merugikan masyarakat, karena seolah-olah memberikan kemudahan namun ternyata menjebak korbannya dengan bunga dan denda yang tinggi, jangka waktu yang singkat, menyalin daftar kontak yang kemudian dipergunakan untuk mengintimidasi atau meneror korbannya kalau tidak mau melunasi pinjamannya.

Baca juga:
Cashbac Hadirkan Promo THR
Generasi Milenial Mulai Tertarik Investasi di Fintech
Marketplace Online Tawarkan Ratusan Paket Umrah ke Tanah Suci
Tips Pinjam Uang di Fintech agar Tak Terbelit Masalah Keuangan
Perjalanan Bisnis Vishal Tulsian Membangun Tunaiku, Fintech Pertama di Indonesia
DANA Bantu Salurkan Dana Masyarakat untuk Berzakat
Selama 2 Tahun, AFPI Gelontorkan Pinjaman Hingga Rp33 Triliun

(mdk/bim)