OJK Putuskan Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit Hingga 2022

OJK Putuskan Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit Hingga 2022
OJK. ©2013 Merdeka.com/Harwanto Bimo Pratomo
EKONOMI | 23 Oktober 2020 09:44 Reporter : Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan memperpanjang relaksasi restrukturisasi kredit hingga 2022. Langkah ini diambil dalam rangka mengantisipasi terjadinya penurunan kualitas debitur dalam menjalankan kewajibannya.

"Perpanjangan restrukturisasi ini sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam siaran persnya, Jakarta, Jumat (23/10).

Wimboh menjelaskan, perpanjangan restrukturisasi kredit ini diberikan secara selektif. Debitur yang mendapatkan perpanjangan restrukturisasi kredit ini akan melewati tahapan asesmen terlebih dahulu demi menghindari moral hazard.

"Perpanjangan restrukturisasi diberikan secara selektif berdasarkan asesmen bank untuk menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu melakukan kegiatan ekonomi dengan beradaptasi di tengah masa pandemi ini," imbuhnya.

Keputusan ini diambil OJK setelah melakukan asesmen yang dilakukan OJK terkait debitur restrukturisasi. Asesmen dilakukan sejak diputuskannya rencana memperpanjang relaksasi ini pada saat Rapat Dewan Komisioner OJK pada tanggal 23 September 2020 lalu.

Saat ini OJK segera memfinalisasi kebijakan perpanjangan restrukturisasi. Kebijakan ini akan dikeluarkan dalam bentuk POJK.

2 dari 2 halaman

Perpanjangan Stimulus Lanjutan

Dalam POJK tersebut juga akan memuat perpanjangan beberapa stimulus lanjutan yang terkait. Antara lain pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah (loan at risk) dalam penilaian tingkat kesehatan bank dan governance persetujuan kredit restrukturisasi.

Kemudian, penyesuaian pemenuhan capital conservation buffer, penilaian kualitas Agunan yang Diambil Alih (AYDA) dan penundaan implementasi Basel III.

Sebagai informasi, realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan per tanggal 28 September 2020 sebesar Rp 904,3 Triliun untuk 7,5 juta debitur. Sementara NPL di bulan September 2020 sebesar 3,15 persen. Angka ini menurun dari bulan sebelumnya sebesar 3,22 persen.

Untuk menjaga prinsip kehati-hatian, bank juga telah membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang dalam 6 bulan terakhir menunjukkan kenaikan. OJK senantiasa mencermati dinamika dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kestabilan di sektor jasa keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi nasional. (mdk/azz)

Baca juga:
OJK Catat Jumlah Nasabah yang Ajukan Restrukturisasi Kredit Mulai Mendatar
Daftar Lengkap Syarat Masyarakat Bisa Terima Subsidi Bunga KPR dan Kredit Kendaraan
OJK: Restrukturisasi Kredit Perlu Diberikan Perpanjangan
APPI: Jaga Arus Kas jadi Tantangan Besar Perusahaan Pembiayaan di Tengah Pandemi
Per 8 September, Restrukturisasi Perusahaan Pembiayaan Capai Rp 166,9 Triliun
Deretan Upaya BUMN Selamatkan UMKM di Tengah Hantaman Pandemi Corona

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami