OJK yakin IHSG akan Menguat Seiring Penemuan Vaksin Corona

OJK yakin IHSG akan Menguat Seiring Penemuan Vaksin Corona
UANG | 10 Agustus 2020 15:22 Reporter : Siti Nur Azzura

Merdeka.com - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depannya akan semakin menguat seiring kemajuan upaya penemuan vaksin covid-19. Kinerja IHSG sempat terpuruk di titik terendahnya pada Maret 2020 lalu, yakni sebesar 3.937,63.

Namun, per 7 Agustus 2020, IHSG mengalami peningkatan dan berada pada posisi 5.143,89 poin.

"Hal ini sebagai dampak dari berbagai strategi pemulihan ekonomi yang telah dan sedang dijalankan oleh pemerintah bersama para pelaku ekonomi dan diperkirakan posisinya akan semakin menguat, salah satunya dipicu oleh optimisme penemuan vaksin COVID-19," ujar Hoesen saat jumpa pers secara virtual di Jakarta, dikutip Antara, Senin (10/8).

Meski demikian, sampai saat ini secara year to date (ytd) nilai IHSG tersebut masih mengalami penurunan sebesar 18,34 persen dibandingkan posisinya pada 27 Desember 2019, yang berada di level 6.299,54 poin. IHSG bahkan pernah berada pada level tertingginya 6.325,41 pada penutupan saham 14 Januari 2020 lalu.

Dampak covid-19 juga mempengaruhi kinerja reksa dana yang ditandai dengan penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB). Sejak 2 Januari 2020 sampai dengan 6 Agustus 2020, total NAB reksa dana menurun sebesar 4,84 persen dari Rp570,51 triliun menjadi Rp542,88 triliun.

Meskipun demikian, per 7 Agustus 2020 jumlah investor pasar modal justru mengalami peningkatan. Total Single Investor Identification (SID) per 31 Juli 2020 sebanyak 3.022.366 atau naik sebesar dari 17,8 persen jika dibandingkan SID per 31 Desember 2019 sebesar 2.484.354.

"Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia masih terus meningkat," imbuhnya.

Namun demikian, persoalannya adalah jumlah investor lebih dari tiga juta tersebut hanya sekitar 1,12 persen dari jumlah penduduk indonesia dan investor dimaksud masih terkonsentrasi di pulau jawa atau belum merata di seluruh Indonesia.

Hoesen menuturkan, hal itu disebabkan antara lain terbatasnya channeling distribution di daerah, di mana saat ini jumlah kantor cabang perusahaan efek sebanyak 600-an di mana 50 persen lebih berada di Pulau Jawa.

Selain itu, belum optimalnya infrastruktur jaringan pemasaran dalam menambah jumlah basis investor domestik. "Terakhir, rendahnya tingkat literasi dan inklusi investor pasar modal yang posisinya jauh di bawah tingkat literasi perbankan," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
IHSG Dibuka Menguat, Investor Direkomendasikan Beli 8 Saham Ini
IHSG Dibuka Menguat, 8 Saham Ini Bisa Jadi Andalan Raup Cuan
IHSG Dibuka Menguat, 7 Saham Unggulan Ini Jadi Rekomendasi Analis
IHSG Dibuka Menguat, Investor Direkomendasikan Pilih 7 Saham Ini
IHSG Dibuka Melemah, Analis Rekomendasikan 8 Saham Ini
IHSG Dibuka Menguat, Analis Rekomendasikan 8 Saham Ini

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami