Pandemi Corona Tumbuhkan Bibit Bisnis Rumahan

Pandemi Corona Tumbuhkan Bibit Bisnis Rumahan
UANG | 11 Juli 2020 21:00 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Pengamat Bisnis dari Peka Consult, Kafi Kurnia, menyebut kemunculan bisnis-bisnis rumahan seperti kopi kemasan literan dan makanan, menjadi bibit ekonomi baru di tengah pandemi Covid-19. Namun, sayangnya bisnis yang kental dari kearifan lokal ini belum terjamin akan kualitasnya.

"Ini kan bibit (seed) ekonomi di masa susah, mungkin yang harus dilakukan pemerintah adalah bagaimana caranya untuk memanfaatkan seed yang berasal dari kearifan lokal ini untuk menjadi empowerment economy on the next lead, mungkin itu salah satu caranya," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (11/7).

Menurut dia, pemerintah perlu menyediakan sebuah platform untuk membantu pengusaha kecil dari segi penjualan ke depan. Sebab, yang kerap terjadi belakangan, mereka hanya mengandalkan media sosial seperti Facebook dan Instagram yang jangkauannya masih teman-teman terdekat.

"Waktu pertama kali mereka jualan kebanyakan dari teman-teman merasa ah tidak enak kita free aja deh kan teman, tapi banyak orang beli. Tapi belum tentu semua enak sekali beli 2, tapi tidak beli terus-terusan. Ini yang menjadi masalah gitu sekarang, padahal ini potensi bibit," kata dia.

1 dari 1 halaman

Bisa Tiru Inovasi Jepang

inovasi jepang

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah juga perlu membuat terobosan untuk menyedot usaha-usaha rintisan tersebut. Setidaknya, pemerintah bisa melakukan inovasi seperti yang dilakukan di Jepang. Di mana, ada sekelompok masyarakat yang membuat ide dapur bersama, dengan cara memfasilitasi banyak kafe dan restoran besar yang tutup lalu dijadikan dapur bersama, sehingga perusahaan-perusahaan kecil menitipkan produknya.

"Saya melihat dan mendengar Gojek membuat project serupa, mereka menamakan cloud kitchen, di mana satu tempat kemudian pengusaha-pengusaha itu tanpa harus membuka kitchen tanpa harus modal besar bisa menitipkan produknya disana, nanti Gojek/Go Food menyediakan jasa pemesanan dan pengiriman, dan dapurnya dishare," kata dia.

"Yang sangat menarik kita adalah negara yang sangat Bhineka Tunggal Ika, jadi kearifan lokal sangat banyak sekali dan itu yang menyebabkan sulit karena budayanya beda sehingga setiap daerah punya ciri khas," sambung Kafi.

(mdk/bim)

Baca juga:
Geliat Layar Tancap Terdampak Pandemi
Hasil Rapid Test Massal, Seratusan PPDP di Medan Reaktif
Update Kasus Covid-19 di Jakarta 11 Juli: 13.957 Positif, 9.040 Sembuh
Kelas Kebugaran Pasien Covid-19 di Afrika Selatan
Tarif Rapid Test Rp150 Ribu, DPR Minta Pemerintah Gratiskan buat Warga Tak Mampu
Eijkman Sebut Covid-19 Bisa Bertahan di Udara dengan Sirkulasi Buruk Selama 8 Jam
Pemerintah Disarankan Libatkan Ahli Susun Kebijakan Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami