Pasar Obligasi RI Diprediksi Terus Menguat Hingga Akhir 2019

Pasar Obligasi RI Diprediksi Terus Menguat Hingga Akhir 2019
UANG | 17 Juli 2019 11:36 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Syuhada Arief, optimis pasar Indonesia akan mengalami penguatan di tahun 2019. Sebab sejauh ini pasar obligasi Indonesia menunjukkan tren penguatan.

Pihaknya mencatat sepanjang tahun berjalan hingga akhir Juni, pasar obligasi Indonesia telah mencatat penguatan 8,21 persen. Penguatan tersebut, diyakini masih akan berlanjut.

"Kami masih melihat adanya potensi lebih lanjut untuk pasar obligasi Indonesia. Iklim pasar finansial saat ini sangat suportif bagi pasar obligasi domestik," kata dia, dalam keterangan tertulis kepada merdeka.com, Rabu (17/7).

Kebijakan The Fed mengarah lebih akomodatif, adanya potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia, dan kenaikan peringkat kredit Indonesia dari S&P merupakan faktor-faktor yang positif bagi pasar obligasi Indonesia.

"Selain itu saat ini sekitar 29 persen dari obligasi di dunia atau sekitar USD 12,5 triliun, berada pada level imbal hasil negatif," ujar dia.

Kondisi ini berpotensi mendorong global yield hunt, di mana investor akan mencari investasi yang masih menawarkan imbal hasil positif. Pasar obligasi Indonesia dapat diuntungkan dari situasi ini karena obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang tinggi.

"Kondisi makro ekonomi kita juga suportif, di mana nilai tukar Rupiah bergerak stabil, dan kondisi politik pasca pemilu juga sudah lebih tenang. Gabungan semua hal tersebut menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi pasar obligasi domestik," jelas dia.

"Kesimpulannya, kami memandang masih ada upside potential untuk pasar obligasi Indonesia ke depannya."

Syuhada menambahkan, berinvestasi di reksadana obligasi masih lebih unggul dibandingkan berinvestasi obligasi secara langsung. Menurutnya, ada beberapa keunggulan berinvestasi di reksadana obligasi dibandingkan dengan berinvestasi di obligasi secara langsung.

Keunggulan pertama yakni biaya minimum investasi di reksadana obligasi relatif terjangkau. "Hanya dengan Rp 100 ribu investor bisa mulai berinvestasi di reksadana obligasi," jelasnya.

Sementara jika investor memutuskan untuk membeli obligasi secara langsung, lanjut dibutuhkan minimum investasi yang jauh lebih besar. Keunggulan kedua yakni pengelolaan yang aktif. Dia menjelaskan, reksadana obligasi dikelola oleh tim manajer investasi yang profesional dengan strategi pengelolaan aktif.

"Pengelolaan aktif artinya manajer investasi dapat mengubah posisi lebih agresif atau lebih konservatif sesuai dengan outlook dan kondisi pasar terkini. Oleh karena itu manajer investasi dapat memanfaatkan fluktuasi di pasar untuk mendapatkan return yang lebih optimal," tandasnya. (mdk/azz)

Baca juga:
Pefindo Prediksi Penerbitan Obligasi Meningkat di Semester II-2019
Ridwan Kamil Bakal Terbitkan Obligasi Dorong Pembangunan Jawa Barat
Kemenkeu Target Penawaran SBR-007 Capai Rp2 Triliun
Ini Alasan Tingkat Imbal Hasil SBR007 Lebih Rendah
SBR007 Resmi Terbit, Imbal Hasil Investasi Ditawarkan 7,5 Persen
Indosat Terbitkan Obligasi dan Sukuk Senilai Rp3,38 Triliun

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami