Pasokan Minyak Sawit Terbatas, Program Biodiesel Disebut Luhut Hanya Cukup Sampai B50

UANG | 10 Desember 2019 12:25 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyebut porsi campuran biodiesel dengan solar akan terus ditingkatkan. Namun dengan kondisi pasokan biodiesel saat ini hanya cukup hingga 50 persen saja (B50).

Luhut mengatakan, mulai 1 Januari 2020 program campuran biodiesel dengan solar akan ditingkatkan 10persen, menjadi B30. Kemudian pada 2021 campuran akan meningkat menjadi B40.

"Mulai 1 Januari B30 semua sudah siap, tahun depan (2021) B40,"‎ kata Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Selasa (10/12).

Menurut Luhut, jika melihat kondisi pasokan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel saat ini, maka penerapan campuran biodiesel dengan solar hanya cukup sampai 50 persen (B50) saja. ‎Kemungkinan pun harga minyak sawit akan meningkat seiring bertambahnya prosi biodiesel yang dicampurkan dengan solar.

"‎kita berhenti di B50 karena nggak cukup suplaynya," ujarnya.

Namun Luhut menegaskan, kondisi tersebut tidak menutup kemungkina‎n Indonesia akan meningkatkan campuran biodiesel dengan solar di atas 50 persen. Pasalnya, pemerintah akan menerapkan program replanting untuk meningkatkan jumlah produksi minyak sawit.

"Dengan kondisi sekarang ini hanya bisa B50. Kita bisa saja meningkat setelah beberapa tahun. Bisa saja dulu 100 untuk PLN," tandasnya.

1 dari 1 halaman

B50 Hemat Rp210,46 Triliun

Ketua Himpunan Pengusaha Kosgoro DKI, Syafi Djohan mengatakan, Indonesia mampu menghemat USD 15 miliar atau Rp210,46 triliun anggaran impor minyak lewat penerapan Biodiesel 50 persen (B50). Hal tersebut akan berdampak sangat signifikan terhadap Current Account Deficit (CAD) Indonesia yang saat ini berada di posisi USD 25 miliar.

"Saat ini, hampir semua negara memiliki ketergantungan kepada minyak fosil fuel yang kita semua ketahui sebagai non-renewable dan juga merugikan kepada lingkungan. Ini adalah momen yang tepat untuk Indonesia menjadi negara yang Energy Independent melalui Sawit. Kita harus mengurangi ketergantungan kita terhadap Impor BBM," ujarnya di Jakarta, ditulis Senin (16/9).

Dia menjelaskan, Indonesia sangat mungkin menjadi negara penghasil minyak untuk kebutuhan sendiri. Bahkan dia menyebut, Indonesia mampu menjadi negara pengekspor minyak dengan potensi sumber daya alam yang besar.

"Saya tidak melihat kenapa kita tidak bisa menjadi energy exportir dan bukan energy importir, karena kita telah dikaruniai dengan produk yang renewable dan sangat efisien, yaitu sawit," jelasnya.

Hingga kini, ada sekitar 20 juta manusia yang hidupnya bergantung kepada industri sawit. Pihaknya juga melihat adanya tantangan dari negara-negara barat yang diskriminatif menyikapi produk unggulan Indonesia.

"Jangan sampai Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, tetapi kuman di seberang lautan terlihat. Yang juga berarti, kita jangan hanya mencari investasi dari luar, tapi juga dari dalam negeri dan Indonesia harus investasi kepada masa depan sawit," tandasnya. (mdk/idr)

Baca juga:
Bank Mandiri Perketat Syarat Pembiayaan di Sektor Pertambangan dan Energi
Pulang dari Belgia, Wamendag Lapor Perundingan Sawit dengan Uni Eropa
Usai Dilantik, Ketua DPW Apkasindo Riau Akui Banyak Masalah Dihadapi Petani Sawit
Presiden Jokowi: Ada yang Senang Impor, Saya Akan Ganggu
Bertemu Jokowi, Delegasi Uni Eropa Singgung Regulasi Jaminan Produk Halal

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.